Friday, 20 July 2018

MIMPI INDAH


Mengapa dunia ini laksana mimpi? Mungkin karena kehidupan dunia ini penuh tipu daya dan angkara murka. Mimpi adalah sesuatu yang dialami, dilihat dan dirasakan ketika kita tidur. Orang bilang mimpi itu adalah bunga-bunga tidur. Mimpi itu bisa baik, bisa pula buruk. Mimpi biasanya terasa berlalu dengan cepat dan berhenti secara mendadak tanpa bisa kita kendalikan.
Dalam pemahaman umum, mimpi dihadapkan dengan jaga. Mimpi itu angan-angan belaka, sedangkan jaga itu nyata. Nyata artinya benar-benar dialami oleh pancaindera kita. Dalam kerangka inilah, impian diartikan sebagai harapan yang belum terwujud di alam jaga. Impian dapat mendorong manusia untuk berjuang mewujudkannya di alam nyata. Tetapi impian yang berlebihan akan sulit menjadi kenyataan.
Kematian tampak serupa dengan tidur panjang, bahwa kehidupan dunia ini sesungguhnya amat singkat dan penuh angan-angan, dan orang tiba-tiba sadar ketika maut datang menjemputnya.
Hidup manusia jelas singkat. Usia harapan hidup di negeri makmur sekalipun belum ada yang melebihi seratus tahun. Kecanggihan ilmu kesehatan ternyata belum mampu memperpanjang umur manusia menjadi berabad-abad. Andai pun bisa, tubuh manusia yang renta itu akan rapuh dan ringkih, dikelilingi oleh ancaman berbagai penyakit. Ketuaan adalah fakta kehidupan yang tak dapat dihindari.
Meskipun hidupnya singkat, angan-angan manusia jauh melampaui keterbatasan dirinya. Tak sedikit orang yang gila kekuasaan, ketenaran, kekayaan dan kenikmatan, seolah dia akan hidup seribu tahun lagi. “Andai manusia diberi satu lembah dari emas, dia ingin dua lembah, lagi dan lagi, sampai mulutnya tertutup tanah,” kata Nabi. Keserakahan membuat hidup manusia dicengkeram angan-angan palsu.
Akibat buruk keserakahan tidak hanya akan dialami setelah kematian, tetapi sejak kehidupan dunia ini. Keserakahan membuat manusia hidup secara berlebihan, dan setiap yang berlebihan akan melahirkan malapetaka. Keserakahan membuat manusia menghalalkan segala cara. Keserakahan membuat manusia tidak peduli bahwa dia merusak alam, menindas sesama manusia dan merusak dirinya sendiri.
Ketika ajal tiba, manusia serakah itu terkejut tiada tara. Dia ingin hidup lebih lama lagi, tetapi tak bisa. Kematiannya sangat menyakitkan, karena harus berpisah dengan segala yang amat dicintainya. Kala itulah dia baru tersadar, terjaga dari mimpinya. Tetapi sayang, semua sudah terlambat. Andai dulu hidup penuh syukur dan sabar. Andai dulu banyak berbuat baik. Andai dia bisa kembali hidup di dunia ini.

No comments:

Post a Comment