Kisah yang ini benar atau tidak; no pic = hoax wkwkwk— masa kecil saya. Saya dilahirkan di rumah dengan bantuan bidan desa untung bukan dukun bayi wkkkkk, sebuah kota kecil yang 'ndeso' Banjarnegara Jawa.Tengah jika dibadingkan kota besar lainnya. Ketika ada kesempatan untuk jalan-jalan ke kutha Semarang , saya kagum dengan banyaknya plaza saat itu. Alangkah kecilnya Banjarnegara dibandingin Semarang! Dasar ndeso!
Saat kuliah di Yogyakarta, saya diutus untuk ikut seminar di Jakarta. Begitu sampai, saya terkagum-kagum dengan banyaknya bangunan tinggi dan tol tengah kota di sana. Alangkah jauhnya Semarang dibandingkan Jakarta. Dasar ndeso!
Berangan dapat tugas di New York Amerika mungkin saya dibuat hening di bekas rentuhan teror 911 yang sudah berubah menjadi gedung-gedung baru yang menjulang menantang elang. Begitu jauh beda New York dibandingkan Jakarta, apalagi Semarang, lebih-lebih Banjarnegara, Dasar ndeso!
Kembali ke Tanah Air, saya mendapat undangan mancing dan keliling pulau bersama legeslatif dan eksekutif dan tamu asing, ada waktu senggang. Oleh kebaikan teman, saya ikut kapal yang cukup besar untuk mengunjungi spot ikan seputaran pulau Kotabaru Kalimantan Selatan.
Setelah semalam menginap di kapal, pagi-pagi benar saya melihat matahari melongok dari perahu kayu itu dan sebuah pandangan yang menajubkan. Sesampai di atas, saya terkesima. Pemandangan alamnya—pertemuan 3 'genangan' air dengan langit—begitu memukau. Hawaii, yang belum pernah saya kunjungi, kalah indah.
"Negaramu begitu menawan. Saya akan balik lagi mengajak teman-teman saya ke sini," ujar turis yang saya temui di ujung kapal. Dia pergi bersama belasan temannya.
Demikian juga Bromo. Lalu Ijen. Bali. Lombok. Jayapura. Manado. Tempat-tempat yang pernah saya injak di Tanah Air itu begitu memukau. Tiba-tiba saja pengertian "ndeso" yang semula negatif jadi memancarkan aura positif. Bagi saya pribadi, yang dilahirkan di kutha alit yang masih ndeso, Banjarnegara, tidak pernah kata itu bernuansa negatif.
Ketika masih kecil, saya sering diajak pak lik saya untuk 'jalan-jalan' ke desa. Bagi pak lik saya kerja, bagi saya petualangan. Setiap kali saya haus, saya tidak perlu khawatir.pak lik langsung motor vespa yang kami naiki untuk berhenti. Di mana saja. Di depan rumah-rumah penduduk ndeso itu, hampir selalu tersedia kendi berisi air dingin menyejukkan yang bisa dinikmati gratis oleh setiap musafir, termasuk saya yang masih kecil. Gratis tis!
Sesampai di Banjarnegara, yang termasuk kutha jika dibandingkan dengan desa-desa di sekelilingnya, saya minta ibu saya untuk membelikan kendi itu. Rasa dingin-segar alami dari kendi itu membuat saya ketagihan. Bahkan saat menulis kolom ini pun saya merindukan masa-masa kecil yang penuh kedamaian di ndeso.
Untuk mengobati rasa rindu terhadap masa kecil yang berbahagia ini, saat liburan di wates Jogja tempat embah, saya sering mengajak Ufa anak saya ke sawah, ikut panen petani atau sekedar memandang panorama keindahan sawah atau pergi ke pantai kebetulan hanya berjarak sekitar 10 km dari rumah embah, bermain membuat benteng atau candi dari pasir, Sungguh pengalaman yang tak terlupakan.
Kini, saat 'dasar ndeso' menjadi perbincangan di kafe elit hotel berbintang sampai warung kopi pinggir jalan—mana ada warung kopi tengah jalan? Hehehe—sudut-sudut sunyi di relung-relung hati terdalam saya justru membuncah dengan kerinduan akan kehidupan ndeso yang apik, jauh dari hiruk-pikuk intrik politik yang membuat mata sesama saudara saling mendelik!
Pertanyaan sederhana yang membutuhkan jawaban yang cukup pelik: mengapa filosofi ndeso yang begitu apik bisa jadi polemik? Apa karena wilayah privat sudah menjadi ranah publik? Apa disebabkan karena perbedaan hermeneutik? Apa karena yang mengucapkannya anak presiden sehingga menjadi konsumsi politik? Entahlah! Saya memilih untuk nyeruput kopi tubruk di atas ingklik!
No comments:
Post a Comment