Friday, 20 July 2018

TAK SEMPURNA


“Tak ada yang sempurna di dunia ini. Setiap orang tentu menghadapi masalah. Mungkin yang berbeda adalah besar kecilnya masalah yang dihadapi,
“Kamu tidak merasakan betapa berat beban yang dipikul orangtua jika ditakdirkan memiliki anak berkebutuhan khusus. Betapa banyak pikiran, waktu, tenaga bahkan biaya yang terkuras untuk menangani anak seperti itu. Diberi anak yang normal adalah anugerah luar biasa. Apalagi jika anak itu menjadi anak yang baik budi dan berprestasi. Inilah yang kumaksud dengan ‘sempurna’,” jelas teman saya protes dengan kata saya diatas. Dia melanjutkan, “Yang paling sering kita anggap biasa tetapi sebenarnya luar biasa adalah kesehatan. Kamu bayangkan saja, jika salah seorang anggota keluargamu terkena penyakit serius seperti kanker. Bukankah itu ngeri sekali? Apalagi batas harapan hidupnya secara medis sudah bisa ditebak. Meski kita percaya bahwa nasib tiap orang sudah ditakdirkan Allah, tetapi hati kita tidak akan mudah berdamai.”
Rupanya dua masalah berat yang dikatakannya itu telah menimpa keluarganya. Hebatnya, dia berusaha menjalani hidup dengan sabar dan syukur. “Beri aku nasihat agar bisa bersyukur,” pintaku.
“Berbuat baiklah sejauh yang kau mampu. Berikan apa yang dapat kau berikan. Jadilah orang yang bermanfaat bagi orang lain. Jangan jadi orang egois, yang hanya ingin hidup tenang dan sejahtera sendiri,” katanya.
Tak terasa, satu jam berlalu. Sepiring nasi yang kami makan sudah habis. Kami harus kembali ke rutinitas masing-masing. Kegiatan baru selesai menjelang Magrib. kami sudah lelah sehingga tak sempat lagi berbincang lama. Esok pagi, Sebuah pertemuan singkat tetapi bermakna. Nasihatnya tentang syukur benar-benar kena di hatiku.
Wujud Syukur
Bersyukur itu ternyata sederhana, yakni melihat hidup secara objektif, apa adanya. Banyak nikmat yang diberikan Tuhan kepada kita, tetapi kita seringkali alpa. Agar sadar, lihatlah kiri kanan, muka belakang. Ada banyak orang yang ditimpa sakit, musibah, dan beban keluarga yang berat. Jika pun kita ditimpa kemalangan serupa, boleh jadi yang kita terima jauh lebih ringan dibanding yang diterima orang lain.
Syukur itu objektif dalam menyikapi hidup. Orang yang serakah itu subjektif karena melihat hidup hanya untuk memuaskan dirinya sendiri. Begitu pula, orang yang tidak berhenti mengeluh itu subjektif karena dia hanya melihat hidup dari sisi negatifnya. Sebaliknya, orang yang melihat kenyataan secara utuh, dia akan dapat menerima musibah yang tak dapat diubah sekaligus mensyukuri nikmat-nikmat-Nya.
Menurut sahabat saya di atas, wujud syukur yang terbaik adalah berbuat baik. Jika kita kebetulan tidak sedang menghadapi musibah atau beban hidup yang berat, sudah selayaknya kesempatan ini digunakan untuk lebih banyak berbuat baik sebagai ungkapan syukur atas segala nikmat yang diberikan-Nya. Tentu saja akan lebih mulia lagi jika kita dapat menolong orang lain padahal kita sendiri juga dalam kesusahan.
Memang, menyikapi hidup sebagaimana adanya itu tidak mudah karena manusia cenderung tidak sabaran, mudah berkeluh kesah dan lupa daratan. Karena itulah, Alquran mengajarkan bahwa orang yang beruntung adalah orang yang beriman dan berbuat baik, serta saling mengingatkan tentang kesabaran dan kebenaran (QS 103). Nasihat tulus, hati ke hati dari seorang sahabat, sangat bermanfaat

No comments:

Post a Comment