Friday, 20 July 2018

ALIRAN SESAT


Ini konyol. Tenaga habis untuk berebut kursi, padahal setelah berhasil duduk di kursi tersebut banyak di antara mereka tingak-tinguk geragapan, tak tahu kiri-kanan, dan terkaget-kaget karena apa yang mereka dapatkan jauh dari bayangan. Mereka tersesat!
Benar sekali, saya mau membicarakan tentang para mahasiswa yang salah jurusan. Mereka kerap diabaikan, tidak mendapat perhatian negara, dan tidak diurusi pencegahan perkembangan jumlahnya. Padahal, yakinlah, populasi umat yang tersesat ini jika dikumpulkan akan cukup untuk mendirikan sebuah republik baru.
"Lho, salah jurusan tak masalah! Yang penting di lingkungan kampus kita bisa membangun tradisi intelektual, belajar banyak hal lain, dan melatih diri untuk kompetisi-kompetisi riil di dunia nyata!"
Halaaah gombal. Saya sudah tak terlalu percaya dengan omong kosong semacam itu. Okelah, tetap ada kelompok demografis yang bisa menyiasati ketersesatannya dengan berbagai alternatif kegiatan, lalu bertahan hidup dengan pilihan jalurnya tersebut. Misalnya dengan aktif di unit kegiatan fotografi, lalu jadi fotografer meski kuliahnya Ilmu Hukum. Atau dengan aktif di gerakan ekstrakampus, aktif di situ sampai tingkat pengurus nasional, lalu selepas kuliah (lulus ataupun tak lulus) menumpang hidup di seniornya yang sudah jadi anggota dewan. Hehe.
Namun yang begitu-begitu jelas saja tak banyak. Mayoritas kaum salah jurusan adalah mereka yang akhirnya jadi hantu-hantu kampus dengan nasib studi tak jelas, beban bagi universitas, beban bagi dosen pengajar, beban bagi orangtua masing-masing. Sebagian di antaranya memang lulus, tapi ya lulus cuma asal lulus saja, tanpa kemampuan memadai sebagai lulusan sebuah program studi.
Itu tadi problem di permukaan. Problem yang sesungguhnya jauh lebih luas lagi. Coba bayangkan saja. Dengan sekian juta mahasiswa salah jurusan dari sekian angkatan, ada seberapa parah in-efisiensi sumber daya yang terjadi di negeri kita?
Jangan lupa, sebagian di antara mereka sebenarnya sosok-sosok potensial. Namun dengan keterpaksaan menjalani jalur yang keliru, mati-matian bertahan di situ, menghabiskan bertahun-tahun untuk mempelajari bidang yang tidak mereka sukai, maka pemborosan besar-besaran telah berlangsung. Pemborosan umur, pemborosan biaya, penyia-nyiaan sumber daya manusia yang boleh jadi sebenarnya sangat dibutuhkan oleh momentum sejarah pada masa mereka.
Usai mereka lulus (ya kalau lulus), umat salah jurusan itu akan terjun di bidang lain yang mereka minati tapi tidak terlalu mereka kuasai. Maka mereka mengalokasikan waktu lagi untuk proses belajar, yang sebenarnya bisa mereka jalani jauh hari sebelumnya andai mereka tepat dalam memilih jurusan. Bukan mustahil, produktivitas golongan ini pun jadi pendek saja, karena mereka mencapai kematangan skill di kala usia sudah menua.
Kemungkinan lain, mereka akhirnya tetap lulus, bekerja sesuai jurusan yang tidak mereka sukai itu, dan berkarya ala kadarnya. Tanpa spirit maksimal, tanpa passion, sekadar untuk bertahan hidup sebagai zombie-zombie pembangunan.
Mengenaskan, bukan? Memang. Lha tapi terus mau apa?
Sekarang bayangkan jika yang terjadi sebaliknya. Andai membengkaknya populasi mahasiswa salah jurusan tersebut bisa dicegah atau diminimalisir, niscaya jutaan sumber daya potensial akan bisa dialokasikan secara lebih tepat sasaran. Pergerakan ekonomi (sudahlah, ekonomi dulu yang penting) akan semakin efektif, hasil-hasilnya lebih maksimal, seiring dengan berkurangnya problem-problem ketenagakerjaan dan pengangguran.
Oke, oke. Saya tahu, bangku kuliah memang tidak menjamin manusia tumbuh sebagai jenius-jenius peradaban. Toh orang-orang semacam Bill Gates, Michael Dell, Steven Spielberg, atau Walt Disney, mereka bukan para sarjana produk universitas.
Tapi, hei, memangnya yang macam mereka itu ada berapa gelintir sih dalam satu generasi? Ha mbok ya ngaca hahaha. Makhluk-makhluk ajaib seperti mereka adalah produk deviasi yang tidak bisa dirancang dalam sistem. Dan pada kenyataannya, realitas kehidupan di negeri bernama Indonesia belum tentu memberikan sisa ruang cukup lapang bagi para manusia super yang bergerak tanpa legitimasi ijazah. Ya, kan?
Jadi Ya sudah terima saja, nerima nasib dan bersyukur saja, semoga ada pembekajaran yang bisa dipetik disana.

No comments:

Post a Comment