DEBAT (K)USIR
Baru-baru ini Saya terperangah dengan salah satu nasihat, “Hindarilah sebisa mungkin perdebatan, karena perdebatan itu menyimpan banyak penyakit, mudaratnya lebih besar dari manfaatnya. Sumber setiap sifat tercela seperti pamer, dengki, sombong, dendam, permusuhan, bermegah-megahan dan lain-lain.”
Bahwa melalui diskusi dan perdebatan, orang bisa mendapatkan kebenaran dan kebaikan. Namun, hal ini hanya bisa dicapai dengan ketulusan hati. Ketulusan itu dapat dibuktikan dengan dua indikator.
Pertama, kamu tak membedakan apakah kebenaran itu muncul dari lidahmu atau orang lain. Kedua, kamu lebih suka diskusi itu dilaksanakan tertutup ketimbang di depan orang banyak.
Kemudian, Ketika orang mempertanyakan satu masalah kepadamu, kamu tidak mesti harus melayani. Ada empat tipe manusia, tiga di antaranya tidak perlu dilayani.
Tipe yang harus dilayani adalah orang yang memiliki kecerdasan memadai dan benar-benar mengharapkan petunjuk. Pertanyaannya tidak didorong oleh rasa benci, dengki, ingin menguji ataupun permusuhan.
Tiga tipe manusia lainnya, tidak perlu dilayani. Pertama, orang yang mendebat karena benci, dengki dan pamer semata. Kedua, orang yang memiliki wawasan sempit, tetapi sudah merasa pintar, melebihi orang yang telah mengkaji berbagai ilmu sepanjang hayat.
Ketiga, orang yang memiliki kecerdasan yang rendah. Dia ingin sekali paham, tetapi kecerdasannya tidak mampu menjangkaunya.
Bagi saya, tentang debat-debat panas di media sosial era digital ini. Patut kiranya kita bertanya, dari empat tipe manusia di atas, kita termasuk yang mana?
No comments:
Post a Comment