Salahkah cinta diri itu? Ya dan tidak. Seperti Narsis, cinta diri menjadi petaka ketika dia hanya melihat dirinya melalui telaga. Akibatnya, dia hanya melihat dirinya sendiri, sementara manusia-manusia lain dianggap tidak ada. Padahal, melihat diri sendiri tanpa bantuan orang lain sama artinya dengan tidak melihat. Dia merasa melihat padahal buta. Dia tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu. Dia bodoh kuadrat!
Sebaliknya, cinta diri akan positif jika ditemukan melalui orang lain. “Seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya,” sabda Nabi. Melalui orang lain sebagai cermin, manusia akan menemukan kesamaan sekaligus perbedaan, kekurangan sekaligus kelebihan dirinya dan orang lain. Cinta diri semacam ini akan melahirkan kerendahan hati karena dia bisa melihat dirinya sebagaimana adanya.
Karena itu, cinta diri tidak harus berarti cinta egoistik, mementingkan diri sendiri dan mengorbankan orang lain. Cinta diri yang sejati justru akan membangkitkan cinta kepada sesama manusia. Sabda Nabi SAW,“Tidak beriman seseorang kecuali dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.” Inilah dasar dari aturan emas: perlakukan orang lain sebagaimana kamu ingin diperlakukan.
Cinta diri bahkan dapat melahirkan cinta kepada Tuhan. “Siapa yang mengenal dirinya akan mengenal Tuhannya,” kata sebuah hadis. Orang yang sungguh-sungguh merenung tentang siapa dirinya, darimana dia berasal dan kemana akan kembali, akhirnya akan sampai kepada Tuhan. Semakin sadar betapa besar rahmat dan nikmat yang diberikan Tuhan kepadanya, dia pun akan semakin mencintai-Nya.
Sufi terkenal, Fariduddin Attar (w. 1230) menulis satu karya berjudul Manthiq al-Thair (Logika Burung atau Musyawarah Burung). Ini adalah kisah simbolik perjalanan spiritual jiwa manusia menuju Tuhan. Diceritakan, ada tiga puluh burung dari berbagai jenis terbang mencari Sang Raja. Di akhir perjalanan, para burung itu terkejut melihat Sang Raja yang disebut ‘Simurgh’ mirip dengan diri mereka sendiri.
Simurgh kemudian berkata, karena burung-burung itu berjumlah tiga puluh, maka Simurgh pun terlihat seperti tiga puluh burung (si-murgh dalam bahasa Persia berarti 30). “Tetapi aku lebih dari tiga puluh burung. Aku hakikat Sang Simurgh yang sejati itu sendiri. Maka leburkan diri kalian dalam diriku dengan jaya dan gembira, dan dalam diriku kalian akan menemukan diri kalian sendiri,” kata Simurgh.
Alhasil, Narsis menunjukkan bahwa cinta diri dapat menghancurkan diri sendiri, tetapi dapat pula menumbuhkan pribadi yang mencintai sesama manusia dan Sang Pencipta. Lantas, manakah cinta diri yang berlaku ketika kita bermedsos?
No comments:
Post a Comment