Saya datang ke pengajian, Sore itu yang ngisi pengajian adalah Pak Kaji Edan. Ustadz bukan, ulama bukan, kiai apalagi, jelas bukan. Hahaha. Tapi justru dari pengajian bersahaja yang disampaikan teman yang satu itu, saya merasa sejenis perasaan sumringah dan gembira muncul lagi.
Pak Kaji bicara tentang hal yang sangat dekat, yaitu tentang bagaimana mencari berkah dari restu orangtua. Tak ada ayat-ayat yang dikutip di situ, tak ada penjelasan hukum-hukum agama di situ, namun yang saya simak justru sesederhana "Jadi kuncinya, bagaimana menjadikan segala hal yang menggembirakan hati orangtua kita itu identik dengan diri kita. Misalnya ibu kita sedang makan roti, maka sebisa mungkin waktu ibu kita memakannya, beliau mengingat kita, 'Oh ini roti ini mirip yang dikasih anakku itu....' Nah, saya menjalani laku demikian, dan sungguh kelancaran dan keberkahan hidup selalu saya dapatkan!"
Oh, aduh. Ini dia. Sudah lamaaa sekali rasanya saya tidak mendengar pengajian model yang begini ini. Kalau boleh saya menyebutnya, inilah namanya contoh beragama. Sontak saya membandingkan, bagaimana banyak orang belajar filsafat, tapi malah gagal berfilsafat. Bagaimana orang belajar ilmu sastra, tapi belum tentu berhasil bersastra. Bagaimana orang suntuk siang malam mempelajari ilmu tasawuf, hafal luar kepala khazanah sufisme dari A sampai Z, tapi justru jauh dari perilaku bertasawuf.
Demikian pula, betapa banyaknya orang belajar ilmu agama, namun malah lupa bagaimana caranya beragama.
Apa yang saya rasakan dari dari pengajian seperti tentang bagaimana mencari berkah dari kebahagiaan orangtua, menjadi pelepas rindu saya akan pemandangan "laku beragama".
Hari-hari belakangan ini, tahun-tahun terakhir ini, entah kenapa saya merasa jauh sekali dari nikmatnya beragama. Aktivitas menjalankan agama yang saya jumpai lebih didominasi oleh pembelaan atas eksistensi agama, perasaan terancam dan tertindas mewakili agama, kecurigaan atas ini-itu yang diyakini mengancam agama.
Kata kunci yang tak henti terdengar bukan lagi seperti masa dulu, ketika guru ngaji di masjid kampung saya bicara tawakal, sabar, atau ikhlas. Yang diangkat bukan lagi kisah semacam Uwais Al-Qarni yang ke mana-mana menggendong ibunya yang lumpuh dan buta, bukan cerita tentang seorang pelacur yang diampuni Tuhan karena memberi minum seekor anjing yang sekarat kehausan, bukan pula nasihat keutamaan menyingkirkan duri dari jalan agar orang lain tidak menginjaknya lantas kesakitan.
Paket yang muncul bersama label agama sekarang ini rasanya melulu tentang... harga diri, marwah, ghiroh, dan entah kata-kata apa lagi yang menumbuhkan suasana tegang tak henti-henti, keinginan untuk melawan dan melawan (entah siapa yang mau dilawan), juga sikap penolakan kepada banyak hal.
"Lho! Emangnya apanya yang salah? Agama bukan cuma mengajarkan kelembutan! Tapi juga ketegasan dan keberanian!"
Saya juga tidak sedang mengkampanyekan depolitisasi agama kok. Saya tidak sedang menyalahkan, apalagi berupaya merongrong dan melemahkan dan sebagainya dan seterusnya. Saya cuma bilang, saya merasa rindu dengan suasana dulu. Dan ternyata kerinduan itu sedikit terobati dengan beberapa peristiwa kecil yang saya temui.
Apa iya sih, perkara rindu saja harus diperdebatkan sampai ke facebook, twitar, bbm, wa dll ?
No comments:
Post a Comment