Kolam air hangat Wanayasa Banjarnegara rupanya salah satu ruang publik yang selama ini saya lewatkan. Di sini orang bukan hanya terapi kesehatan, tapi juga berkomunikasi dan bersosialisasi gaya lama. Saat orang masuk ke kolam, tentu ia meninggalkan gadget-nya, bukan? Kecuali remaja-remaja kenes yang nyemplung ke kolam sambil nyangking tongsis untuk berswafoto ria.
Di tengah-tengah jeda di bibir kolam, mengatur napas, menunggu giliran di bawah pancuran air hangat, orang dapat memanfaatkannya untuk berinteraksi dengan orang di sebelahnya—seperti saya dengan teman-teman alumni smpn1 Banjarnegara,Tanpa gagdet, kami berbincang, bertatap muka, berbagi cerita dengan asyik. Tak jarang percakapan semacam ini berlanjut di tepi kolam seusai berkumkum menikmati air hangat didaerah wanayasa adalah dataran tinggi dengan suhu dingin rasa sangat sensansi tiada Tara.
Di era medsos, interaksi gaya lama ini terasa mewah bagai zaman yang hanya orang berdarah kerajaan. Ruang dan kesempatan untuk melakukannya kian tergerus. Kadang-kadang ruangnya ada, misalnya ngobrol bareng di kafe, tapi tiap-tiap orang toh masih asyik dengan gadget-nya masing-masing. Akibatnya, perjumpaan tidak jarang jadi kurang optimal.
Apa pentingnya perjumpaan (gaya lama) semacam itu? "Setiap kali Anda melihat dunia dan orang-orang di dalamnya secara cermat, hal itu mengubah Anda. Setiap kali Anda berusaha untuk mendengarkan, untuk mengagumi, untuk bertanya-tanya, dunia menanggapi, membuka dan memberi dirinya kembali kepada Anda menurut cara-cara yang tidak pernah Anda bayangkan. Cerita apakah yang tersembunyi di balik wajah orang-orang yang Anda lewati? Pengharapan apakah? Keputusasaan apakah? Cinta apakah?"
Kita diundang untuk menyimak dunia dan orang-orang di sekitar secara lebih cermat. Kita diminta untuk mempedulikan, bukan sekadar menjalani hidup secara acuh tak acuh. Perjumpaan semacam itu melibatkan kesediaan untuk membuka diri, menerima, dan berbagi.
Buahnya, hidup kita diperkaya. Kita berlatih melihat dunia dengan kacamata yang majemuk, bukan sekadar kacamata diri yang bisa jadi egois dan picik. Kita belajar menerima sudut pandang orang lain yang berbeda bukan sebagai ancaman, tapi pelengkap atas sudut pandang diri yang terbatas.
Empati kita juga dipertajam. Kita mencoba memasuki dunia liyan, menilik dunia melalui sudut pandangnya, tidak buru-buru memberikan cap atau penilaian hitam-putih. Kita tidak bergegas menarik garis "kami versus mereka," tapi telaten mencari serat-serat kesenasiban dan persaudaraan. Perjumpaan intensif dan timbal-balik dengan sesama menolong kita bertumbuh menjadi manusia yang kian utuh.
Pertemuan langsung mengadung keunggulan yang tak tergantikan. Ia mengintensifkan kadar komunikasi dan pertukaran wawasan, mengurangi potensi kesalahpahaman, serta sejalan dengan kodrat dan kerinduan kita sebagai "Aku manusia. Rindu rasa. Rindu rupa.
Saya nyengir, memancal tembok kolam, lalu meluncur dengan gaya bebas. Lumayan, bisa setengah lebar kolam air hangat wanayasa Banjarnegara Selasa sore, Airnya hangat lebih cenderung panas, bening dan segar sekali. Semoga setelah ini semua tuntas.
No comments:
Post a Comment