Postingan di dinding Facebook.rutin berseliweran. Di situlah terpampang berbagai tampilan yang menggoncang-goncang keteguhan nalar rasional para manusia perantauan. Makanan, makanan, dan makanan. Semuanya cita rasa kampung halaman.
Dulu kala, saya selalu mengejek para aktivis medsos yang hobinya cuma posting foto makanan. Apalagi kalau muatan pesannya sekadar, "Gue lagi di sini makan ini." Haha. Tapi, sejak kami hinggap di Kalimantan selatan Kotabaru dan menjalani masa di kota ini hingga beberapa tahun lamanya, standar moral omong kosong dalam bermedsos itu saya runtuhkan serta-merta.
Mulai saat itu, diam-diam saya kerap terpukau memandangi foto-foto makanan Indonesia yang dipajang teman-teman, khususnya yang pernah lekat dengan realitas kehidupan saya. Betapa takjubnya saya menatap lekuk-lekuk pada gambar irisan ketupat ditaburi.beberapa sayuran ternasuk kembang cobrang faforitku dan dilumuri bumbu kacang, apa lagi kemarin waktu acara reuni smpn1 banjarnegara tersedia berbagai macam kuliner khas banjarnegara termasuk yang sudah tertelan zaman yaitu minuman badig yang terbuat dari air nira kelapa bikin hayut kemasa zaman putih biru.
Saya memang penggila pecel Banjarnegara kampung kami, boleh dibilang tiap pekan kami makan pecel. Bahkan lapar tengah malam pun jadi alasan legal-formal kami untuk ngeluyur sampai ke warung pecel.
Belum lagi pecel ada buntil , betapa saat menuliskan kalimat ini serasa harum masakanya melayang melompati jarak puluhanan kilometer, diiringi sayup-sayup suara mbak pelayannya yang bertanya, "Satu setengah porsi campur mendoan dan bakwan, seperti biasa, Mas?"
Kadang terlintas di lamunan saya, bahwa pecel,buntil dan lain-lain khas banjarnegara adalah salah satu alasan terpenting Tuhan ketika Dia memutuskan untuk menciptakan kilometer khas Banjarnegara.
Itu baru pecel . Belum soto. Segenap rakyat Indonesia tahu, bahwa soto adalah instrumen ritual paling vital untuk menjalani Minggu pagi yang sempurna. Mau dimulai dengan bersepeda dulu, jalan-jalan dulu, atau sekadar menyibak selimut dulu, soto adalah kewajiban mutlak yang mustahil dilawan.
Itu baru pecel dan soto, baksi belum gudeg, bebek goreng, bakmi jawa, nasi padang di mana-mana yang adanya cuma enak dan enak banget. Mangut lele, pecel kembang combrang lauk tahu bacem, bahkan sekadar nasi kucing angkringan, dan bejibun nama lain yang demi etika bermedia tak pantas saya sebutkan satu per satu merek-mereknya.
Maaf, maaf, saya kehilangan kendali emosi kalau sudah bicara makanan banjanegara jawa tengah Indonesia. Namun, percayalah gangguan jiwa yang mengkhawatirkan ini bukan cuma menimpa saya. Teman-teman sesama keluarga Idonesia di sini pun merasakan hal yang sama.
Di situlah pentingnya kehadiran para jagoan memasak di antara kami. Tidak sangat banyak, tentu saja. Tidak semudah melambai ke tukang bakso. Tidak segampang memanggil tukang sate madura yang gerobaknya gemerincing melintas di depan rumah.
Setiap kali ada referensi makanan yang masuk dengan citarasa tanah leluhur, getok tular berbagi kabar sambung-menyambung pun terjadi. Dari semua itulah selama ini para perantauan di tanah ini mengantar lidahnya untuk pulang sesaat ke akar seleranya, sembari membangun sejenis sentimen tertentu dan membentuk sensasi intim yang sulit dikisahkan dengan kata-kata.
Demikianlah. Aroma dan cita rasa makanan ternyata tidak berhenti sekadar di perkara selera, atau perkara nafsu untuk meningkatkan kadar kolesterol dan berat badan. Semua itu jadi simpul-simpul yang secara batin sangat kokoh dalam menghubungkan para perantauan dengan tanah kelahiran.
Jujur saja, bau masakan jauh lebih tajir dalam membangun ikatan kebangsaan daripada mata kuliah Pendidikan Pancasila, apalagi Kewiraan. Aroma masakan dengan sangat meyakinkan berhasil menutup celah-celah yang gagal diisi oleh lantunan Indonesia Raya, juga pembacaan sila-sila dalam Pancasila.
Apakah dulu ada saatnya Ben Anderson kepikiran mengulas secara serius kaitan selera lidah Nusantara dan nasionalisme dalam satu bab tersendiri di bukunya Imagined Communities? Ah, saya tidak berani menduga-duga.
Yang jelas, ketika makan pecel, buntil dan makan khas banjar datang berkunjung warung pecel jadi rebutan. Juga, ketika temen buat soto yang nyaman, kami sebenarnya sedang menikmati ilusi pulang.
Pulang. Tentu saya jadi ingat tokoh Dimas Surya dalam novel Pulang-nya Mbak Leila Chudori. Seorang lelaki pelarian yang rindu pulang namun tidak memungkinkan, hingga yang bisa ia lakukan hanyalah menyimpan segenggam cengkeh dalam stoples kaca, yang setiap saat terus-menerus ia hirupi baunya. Bau cengkeh adalah pulang. Aroma kampung halaman.
Sekepal demi sekepal nasi ia tata berkeliling, disusul sejumput demi sejumput sayur gudangan, oseng tahu buncis jamur, potongan tempe goreng tepung beras ketumbar, rempeyek dengan irisan daun jeruk purut, dan tentu saja menu andalan oseng-oseng jantung ayam yang diramu dengan bunga kecombrang.
"Brokohan adalah media yang paling menyenangkan untuk menembus kekakuan perbedaan keyakinan. Apa pun kamu, ragam laukmu sama!" Begitu bunyi propaganda yang digaungkan di sudut taman terluas di kotabaru itu.
Saya percaya, dari tangan-tangan lentur para jagoan masak seperti temen dan lain-lainnya itulah, Indonesia masih layak berharap untuk tetap ada.
Bibit-bibit perpecahan yang disebar di mana-mana, pribumi melawan non-pribumi, anti-ini anti-itu, akan selalu bisa kita lawan dengan senjata-senjata andalan: wangi buntil, nasi goreng, tongseng kambing, coto makassar, bumbu rendang, ikan woku, dan pecel sayur yang berlumur kuah tumbukan kacang.
No comments:
Post a Comment