Friday, 20 July 2018

NIKMAT TUHAN MANA YANG KAMU DUSTAKA


Kesempatan meraih hidup yang baik dapat dirasakan semua pihak dan kalangan. Meski sayangnya, defenisi cukup sungguh sangatlah absurd, tidak ada pengukurnya.
Memperoleh ketenangan jiwa –dalam keadaan sejahtera– merupakan kemungkinan ultim manusia selama hidupnya dan makna seluruh keberadaannya. Untuk kebahagiaan sedemikian itu, sebetulnya kita tidak perlu memiliki harta benda berlimpah-ruah. Karena batiniah (jiwa) manusia itu sendiri sudah dapat menentukan rasa cukup sampai pada batas ketentuannya. Semestinya kita berkaca pada ayat: Maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan? (QS. 55:13).
Para ulama menganalogikan sikap manusia identik dengan unggas. Dalam diri manusia berisikan empat unggas. Ayam mewakili hawa nafsu, bebek mewakili sifat rakus, merak mewakili sikap angkuh, dan gagak mewakili keinginan. Dari keempat analogi ini yang paling dominan ialah bebek. Tak pelak, keserakahanlah yang mendominasi sepanjang jalan kehidupan tiap manusia.
Sebagaimana homo economicus, menjadi kodrat bagi manusia atas nama persaingan selalu berusaha mendapatkan sebanyak-banyaknya dengan ongkos sesedikit mungkin. Pendapat ini telah menjadi spirit universal dan tidak ada daya tolak koreksinya. Terlebih saat ini, di kala progresivitas melahirkan kompleksitas yang kian meruyak atas nama kemajuan, pertumbuhan dan pembangunan.
Tujuan manusia hidup di dunia bukanlah untuk berlomba mengumpulkan harta hingga melimpah ruah belaka. Dunia hanyalah sementara; ladang untuk menentukan pilihan berbuat kebaikan. Marilah kita hidup dengan kesederhanaan. Hidup dengan penuh keikhlasan, kepasrahan dan rasa syukur, agar hidup yang kita lalui terasa indah dan bertebar berkah.

No comments:

Post a Comment