Friday, 20 July 2018

SYUKUR


Bersyukur itu ternyata sederhana, yakni melihat hidup secara objektif, apa adanya. Banyak nikmat yang diberikan Tuhan kepada kita, tetapi kita seringkali alpa. Agar sadar, lihatlah kiri kanan, muka belakang. Ada banyak orang yang ditimpa sakit, musibah, dan beban keluarga yang berat. Jika pun kita ditimpa kemalangan serupa, boleh jadi yang kita terima jauh lebih ringan dibanding yang diterima orang lain.
Syukur itu objektif dalam menyikapi hidup. Orang yang serakah itu subjektif karena melihat hidup hanya untuk memuaskan dirinya sendiri. Begitu pula, orang yang tidak berhenti mengeluh itu subjektif karena dia hanya melihat hidup dari sisi negatifnya. Sebaliknya, orang yang melihat kenyataan secara utuh, dia akan dapat menerima musibah yang tak dapat diubah sekaligus mensyukuri nikmat-nikmat-Nya.
Wujud syukur yang terbaik adalah berbuat baik. Jika kita kebetulan tidak sedang menghadapi musibah atau beban hidup yang berat, sudah selayaknya kesempatan ini digunakan untuk lebih banyak berbuat baik sebagai ungkapan syukur atas segala nikmat yang diberikan-Nya. Tentu saja akan lebih mulia lagi jika kita dapat menolong orang lain padahal kita sendiri juga dalam kesusahan.
Memang, menyikapi hidup sebagaimana adanya itu tidak mudah karena manusia cenderung tidak sabaran, mudah berkeluh kesah dan lupa daratan. Karena itulah, Alquran mengajarkan bahwa orang yang beruntung adalah orang yang beriman dan berbuat baik, serta saling mengingatkan tentang kesabaran dan kebenaran (QS 103). Nasihat tulus, hati ke hati dari seorang sahabat, sangat bermanfaat.

No comments:

Post a Comment