Friday, 20 July 2018

BUKU


Ufa anak saya tidak terlalu menggilai buku-buku. Memang beberapa hari dalam sepekan ia mendapat PR membaca dari gurunya, dan kadangkala ia pun tampak senang dengan tugas-tugasnya. Tapi saya melihat, persentase terbesar dari pengetahuan yang ia dapatkan dan ia tampilkan bukanlah dari buku-buku.
Berkali-kali dalam percakapan kami, anak saya bercerita tentang hal-hal yang tak kami ketahui. Tentang sains, tentang ungkapan-ungkapan khas bahasa Inggris, atau tentang hal-hal tak terduga lainnya. Sekali dua kali memang ia berkata mendapatkan hal-hal itu dari buku. Namun jauh lebih sering ia menyebut "Youtube", atau "Internet", atau minimal acara-acara untuk anak di televisi sebagai sumbernya.
Kami orangtua yang biasa-biasa saja. Kami paham, ada banyak hal berbahaya di internet. Mewanti-wanti anak agar tidak terlalu bebas dalam mengakses internet jelas kami lakukan. Namun untuk melakukan pengawasan setiap waktu atas apa yang ia tonton atau ia baca dari layar iPad, jujur saja kami tak kuasa.
Meski demikian, syukurlah, sampai detik ini tak pernah ada hal mengkhawatirkan yang ia munculkan sebagai produk aktivitasnya berinternet. Yang ada justru kejutan-kejutan menyenangkan, yang membuat saya pelan-pelan mengakui bahwa kita telah tiba di tubir zaman.
Beberapa pekan lalu, saat saya menulis catatan, saya ngotot bahwa pada masa transisi ini peran buku masih sangat vital. Buku masih sangat penting sebagai instrumen yang kita gunakan untuk mengakses kedalaman, menyantap sajian ide yang komprehensif, serta memahami konstruksi gagasan yang utuh dan bukan semata remah-remah.
Ada nuansa konservatisme di situ, memang. Namun ada bagian yang perlu diberi titik tekan, bahwa tuntutan tersebut hanyalah untuk fase transisi ini, masa ketika produktivitas dipegang oleh mereka yang lahir pada era 80 hingga 90-an.
Selebihnya, anak-anak kita akan berbicara dengan bahasa generasinya. Mereka adalah digital native, anak-anak dengan titik start yang jauh berbeda dengan kita. Kita pasti resah, sebagaimana setiap perubahan selalu melahirkan gelisah. Namun yakinlah, akan muncul semacam kemampuan beradaptasi yang jauh melampaui kecemasan-kecemasan kita. Bukan sekadar digital wisdom sebagaimana digagas Marc Prensky, tapi jauh lebih kompleks lagi. Dengannya, anak-anak kita menjalankan prosedur alami yang sangat berbeda dengan kita, saat mereka mengunyah buah pengetahuan dan mengisap sari-sarinya.
"Karena simbol menggantikan ingatan, tulisan akan membuat kita menjadi pemikir dangkal, sehingga kita tidak bisa mencapai kedalaman intelektual yang akan mengantarkan pada pengetahuan dan kebahagiaan sejati." Socrates merengek dengan kalimat itu hampir 2500 tahun lalu, sebagaimana dikisahkan oleh Plato dalam Phaedrus-nya. Pemikir agung itu ketakutan melihat hadirnya tulisan dan buku-buku, sesuatu yang masih asing pada zamannya.
Hari ini dan hari-hari sebelum ini, kita menertawai rengekan Socrates itu. Terbukti kekhawatiran lelaki galau dari Athena itu keliru belaka. Maka kita juga mengerti, bahwa ketika kita sekarang merengek dengan kalimat senada sebagai bentuk ketakutan kita akan jauhnya anak-anak kita dari buku, semua itu akan sama kelirunya.
Esok pagi kemarin adalah tanggal 17 Mei, Hari Buku Nasional. Saya tidak yakin apakah satu dekade ke depan anak-anak kita masih akan merayakannya. Bahkan bisa jadi, mereka memang tidak lagi perlu merayakannya.

No comments:

Post a Comment