Agama menjelma menjadi komoditas alias objek-objek konsumsi. Ketika Ramadan tiba, pakaian ‘muslim’ seperti sarung, kopiah, baju koko, mukena, dan jilbab membanjiri pasar. Tiap Ramadan dibuka ‘Pasar Ramadan’ di mana berbagai kue tradisional dan lauk pauk khas daerah dapat dibeli. Hotel-hotel juga menawarkan aneka paket berbuka dan sahur.
Salahkah semua ini? Ya dan tidak. Ya, jika semua tuntutan material itu dianggap sebagai satu keharusan sehingga orang memaksa-maksakan diri. Ya, jika orang berbelanja melebihi kewajaran dan kebutuhan. Alquran tidak melarang orang menikmati hidup duniawi ini. “Wahai anak Adam! Pakailah pakaianmu yang indah ketika masuk masjid, dan makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan…” (QS 7:31).
Kita tidak bisa menyangkal bahwa tingkat konsumsi kaum muslim selama Ramadan hingga lebaran meningkat drastis. Apakah ini suatu paradoks, pertentangan dalam diri umat Islam? Jika puasa mengajarkan orang untuk mengendalikan hawa nafsu, lantas mengapa di bulan Ramadan orang justru makin bernafsu menyantap berbagai makanan dan minuman, serta membeli aneka barang?
Paradoks kaum muslim di atas adalah nyata, tetapi tidak bisa digeneralisasi. Di era pasar bebas kapitalis ini, manusia memang terus digoda untuk membeli dan memiliki. Keserakahan dikipas-kipasi, termasuk dengan menggunakan cap agama. Bahkan kesejahteraan diukur dengan tingkat konsumsi. Nilai diri Anda dikampanyekan seolah benar-benar ditentukan oleh apa yang Anda beli dan miliki.
Ideologi serakah jelas bertentangan dengan ajaran agama tentang kesederhanaan dan keseimbangan. Sumber keserakahan adalah hawa nafsu, keinginan-keinginan rendah dan jangka pendek dalam diri manusia. Keserakahan adalah keinginan yang tak terkendali dan nyaris tanpa batas. Keserakahan mewujud dalam perilaku yang berlebihan. Tiap yang berlebihan akan merusak keseimbangan.
Berbagi di Bulan Suci
Namun, rasanya tidak adil jika kita menuduh semua orang Islam itu serakah di bulan puasa ini, persis saat mereka dilatih mengendalikan nafsu. Ada banyak orang yang berusaha menekan hawa nafsu dan rajin beribadah selama Ramadan.Tidak sedikit orang yang memberi sedekah dan zakat untuk fakir miskin serta menyantuni anak-anak yatim. Banyak pula orang yang membantu lembaga-lembaga sosial.
Boleh jadi, justru karena sebagian kaum berpunya mau berbagi di bulan suci ini, maka tingkat konsumsi umat Islam melonjak naik. Kaum miskin yang biasanya tidak dapat membeli makanan, minuman dan pakaian tertentu, justru dapat menikmati semua itu sekarang karena mereka mendapatkan pemberian dari kaum berpunya. Singkat kata, karena si kaya mau berbagi, daya beli masyarakat menjadi meningkat.
Alhasil, ketegangan material-spiritual itu memang ada, dan ini tidak aneh. Mengendalikan nafsu adalah perjuangan tanpa henti, dan hasilnya bagi tiap orang juga berbeda bahkan bertentangan. Ada yang serakah, ada yang sederhana. Ada yang pelit, ada yang pemurah. Ada yang rajin ibadah sunah, ada yang cukup ibadah wajib saja, bahkan yang wajib pun diabaikan. Umat Islam itu beragam!
Lantas, kita termasuk golongan yang mana?
No comments:
Post a Comment