Pesannya tegas, urusilah kepentinganmu. Tak usah peduli. Nasibmu bergantung padamu, bukan pada orang lain. Kita lahir sendirian dan mati pun sendirian. Maka itu, berjuanglah sendirian. Orang lain hanya saingan yang sesekali dapat menerkammu.
Kita benar-benar menjadi pemuja setan. kita menjadi serigala bagi manusia lain. Nyawa menjadi urusan akumulasi waktu. Tak perlu ditangisi karena semua orang akan mati. Jangan habiskan waktumu untuk berdukacita. Time is money. Kalau tak menghasilkan uang, jangan habiskan waktumu.
Hidup ini hanya sekali, maka nikmatilah berkali-kali. Abaikan orang lain jika tidak bisa menghasilkan. Bertemanlah hanya kalau itu menguntungkan. Sebab, orang lain adalah komoditas. Orang lain adalah mesin produksi. Jika mesin itu macet, segera tinggalkan. Jangan buang-buang energi!
Itulah sebabnya, para kaum borjuis dan elite lebih suka berteman dengan sesamanya. Berfoya-foya di hotel, arisan di mall, merayakan ulang tahun dengan bermewah-mewah. Tak pernah mereka menjenguk orang-orang terpinggirkan. Sebab, orang terpinggirkan adalah komoditas yang tak menghasilkan, malah justru merugikan.
Hasilnya, lihatlah rasio gini kita kian tahun kian curam. Terjemahan dari rasio gini adalah di mana kaum elite bersekongkol dengan kaum elite untuk menindas kaum-kaum terpinggirkan. Orang kaya semakin kaya, dan orang miskin semakin miskin.
Ya, manusia menjadi pemuja setan. Hampir di setiap waktu, termasuk pada masa puasa seperti ini. Masa di mana seharusnya kita menuju kesejatian. Tapi, pada masa puasa itu, kita justru acap lebih sibuk mengurusi godaan, bukan tantangan.
Kita lebih sibuk sweeping agar warung ditutup. Padahal puasa itu adalah menghikmati bagaimana kita melawan godaan, menghikmati bagaimana merelakan agar orang yang tak berpuasa bisa makan dengan tanpa sungkan, misalnya.
Padahal lagi, puasa itu bukan semata tidak minum dan makan saja. Puasa adalah perayaan kemanusiaan. Memberi orang lain makan, terutama mereka yang terpinggirkan. Namun, kini tolehlah pada kehidupan kita. Apakah kita peduli? Tidak! Kita justru lebih sering berbuka dengan bermewah-mewah, padahal banyak orang tak bisa makan.
Bahkan lagi, pada masa puasa, konsumsi kita bukannya menurun, malah semakin dahsyat. Yang lebih memiriskan, masa puasa justru menjadi lahan bisnis bagi para cukong dan spekulan. Mereka suka menaikkan harga. Modusnya dengan melangkakan barang.
Pada akhirnya, orang miskin menjalani puasa hanya untuk merasakan harga-harga barang kebutuhan yang semakin mencekik sehingga mereka tidak bisa makan. Siapa peduli? Tidak ada. Sebab, kita hidup bukan lagi dipersatukan oleh rasa, tapi oleh kepentingan. Jika kepentingan itu tidak ada, maka kita dengan sedemikian gesitnya akan bercerai-berai.
Melihat fakta itu, barangkali di ujung sana, setan pun terbahak-bahak. Jam terbangnya menggoda manusia ternyata tidak sia-sia selama ini. Dengan kelicikannya, setan itu telah berhasil memperdaya agar manusia suka berpenampilan religius, tapi berotak fulus. Berpelesiran spiritual, tapi dangkal rasa. Hasilnya, ibadah kita ibadah kering dan kita tinggal di dalam keserakahan kita. Kita menjadi pemuja setan. Atau, jangan-jangan sudah menjadi setan itu sendiri? Oh!
No comments:
Post a Comment