Friday, 20 July 2018
PASRAH
Besok hari rabu15 Februari 2017, adalah pilkada serentak di berbagai kabupaten/kota di Indonesia. Di Kabupaten Banjarnegara (Jawa Tengah), pilkada dilaksanakan. Para politisi dan masyarakat di kabupaten ini tampak menggeliat. Namun pengaruhnya tidak sampai ke kabupaten lain, apalagi ke provinsi lain. Pilkada-pilkada di provinsi lain juga demikian, kecuali DKI Jakarta.
Jakarta adalah kota terbesar, termegah dan terpadat di negeri ini.Di sini pusat kekuasaan dikendalikan. Pilkada Jakarta menjadi panas antara lain karena salah satu calon gubernurnya, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), etnis Tionghoa dan Kristen, menjadi tersangka penistaan agama. Pro dan kontra kasus ini telah banyak menguras energi anak bangsa, dan tampaknya masih belum benar-benar (akan) reda.
Karena itu wajar jika ada yang khawatir, gara-gara pilkada Jakarta, bangsa ini akan berpecah-belah. Perbedaan seolah sudah amat runcing, sehingga titik temu dan kompromi sulit dicari. Yang satu melihat pihak lain sebagai ancaman yang berambisi menguasai segalanya. Yang lain menilai pihak lain sebagai ancaman runtuhnya sendi-sendi rasa kebangsaan akibat pola pikir hitam-putih dan mau menang sendiri.
Sudah maklum, dunia politik itu penuh intrik dan permainan. Kita tidak tahu pasti manakah yang nyata dan manakah yang sandiwara. Apakah informasi yang kita terima adalah dusta atau fakta. Apalagi, kini berita tidak hanya didapat di media konvensional, melainkan juga di media sosial. Aksi massa ‘Bela Islam’ atau lawannya, ‘Bhinneka Tunggal Ika’, terutama digerakkan melalui media sosial.
Terlepas dari benar-tidaknya aneka informasi yang kita terima, yang sudah nyata adalah ketegangan yang tinggi antara para penolak dan pendukung Ahok. Untuk kesekian kalinya, bangsa ini diuji, apakah kita sanggup keluar dari ketegangan ini, lalu kembali merangkul satu sama lain? Dapatkah kita melewati proses demokrasi ini, dan siap menerima hasil akhirnya, meskipun tidak sesuai dengan harapan kita?
Sebagai bangsa yang sudah melewati banyak pengalaman sejarah, dari ketegangan mulut hingga konflik bersenjata yang berdarah-darah, sudah selayaknya kita optimistis. Kalau dulu para tokoh bangsa ini berhasil mencari jalan keluar dari berbagai kebuntuan, mengapa generasi sekarang tidak? Kita wajib belajar dan mengikuti kearifan para pendahulu kita, jika kita memang masih cinta pada negeri ini.
Menurut kaum sufi, manusia dapat menemukan kesadaran diri yang sejati ketika dia tiba di batas paling ujung keterbatasan dirinya. Ketika dia kehilangan orang yang dicintainya, atau ditimpa penyakit yang sulit disembuhkan, dia berpeluang menemukan kesadaran itu. Diri yang lemah tanpa daya, akhirnya pasrah, kembali pada Dia Yang Tak Terbatas. Dalam kepasrahan itulah dia menemukan kedamaian.
Mungkin hal ini bisa dikiaskan ke ranah sosial. Pada puncak pertengkaran, sesungguhnya manusia diberi peluang untuk menemukan kembali kedamaian dalam kebersamaan. Akankah peluang itu kita ambil? Semoga!
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment