Friday, 20 July 2018

GENGSI


"Yah , Ayah tahu enggak kalau ayam itu sebenarnya dinosaurus?"
Hoahaha! Saya langsung ngakak mendengar candaan Ufa. Anak saya itu baru masuk kelas satu waktu bertanya demikian, dan saya menduga dia habis dapat cerita aneh-aneh dari temannya.
Namun tak dinyana, Ufa langsung protes keras mendengar tawa mengejek yang keluar dari mulut saya. "Beneraaaaan! Ayah pasti nggak tahuuu!" dia pun mulai emosi.
Segera saya tenangkan dia. Saya elus-elus kepalanya dan bicara pelan, lebih kurang, "Sudaaah, jangan marah. Mungkin kamu pingin Ayah mengalah. Tapi kalau memang yang kamu katakan itu salah, ya Ayah akan bilang itu salah. Kan Ayah pernah sekolah lama juga, sudah belajar banyak juga...."
Ufa tetap tidak terima. Dia ngambek. Sementara, saya tetap kokoh pada pendirian saya. Bagaimana pun saya hidup 40 tahun lebih lama ketimbang dia. Saya pernah belajar Biologi dengan sangat serius, karena guru Biologi saya semasa SMP terkenal menyeramkan. Belum lagi waktu kecil, banyak obrolan ilmu alam saya dapatkan pula dari temen saya yang juga ada mata kuliah Biologi di kampus dengan nilai A, Saya lumayan percaya diri untuk soal ini.
Hingga kemudian iseng-iseng saya buka Google. Saya ketik deretan kata "chicken is dinosaurs". Lalu tombol search saya klik.
Dan... astaga! Yang terpampang di hadapan saya adalah deretan artikel serius dengan judul semacam "Chicken are Closely Related to Dinosaurs", "How Dinosaurs Shrank and Became Birds", dan sebagainya. Saya baca sekilas, dan isinya memang menyatakan bahwa menurut riset-riset palaeoantropologi, ayam merupakan cicit-evolusi dari dinosaurus. Dengan kata lain, benar kata Ufa, bahwa pada dasarnya ayam adalah dinosaurus!
Panik, saya pun segera meminta maaf kepada Ufa. Khawatir sekali rasanya, jangan-jangan anak saya mengalami "keputusasaan intelektual", gara-gara arogansi orangtuanya yang sok tahu.
Begitu dia mendengar permintaan maaf saya, sambil merengut dia kasihlah gong itu. "Ya kaaan? Grown up nggak selalu lebih tahu daripada kids kaaan?"
Jleb banget saya rasakan kalimat itu. Sebelumnya saya ngotot lebih benar karena merasa, ehm, sudah cukup kenyang makan asam garam kehidupan. Tapi kemudian anak saya memukul telak dengan kalimat bahwa orang dewasa tidak selalu lebih tahu ketimbang anak-anak. Hahaha. Sialan.
Begitulah. Ini sebenarnya pengetahuan klasik saja, bahwa lamanya seseorang dalam menjalani kehidupan tidak otomatis berbanding lurus dengan kepintarannya. Secara rasional kita semua sangat paham soal itu. Namun di bawah sadar, acapkali muncul rasa gengsi. Gengsi untuk mengakui bahwa usia kita yang berjalan sebegini jauh ternyata tidak mampu menjadi jaminan atas jauhnya pula perjalanan dalam kekayaan pengetahuan.

No comments:

Post a Comment