Banyak orang menganggap jabatan sebagai kenyamanan yang dibagi dan digilir antar sesama teman. Menjabat bukan karena ingin berbuat, tetapi karena ingin duduk manis menikmati fasilitas dan kehormatan. Karena orang umumnya berpikir demikian, maka ketika Anda berkata bahwa jabatan adalah pengorbanan dan pengabdian, mereka tidak akan percaya dan menuduh Anda pendusta!
Kendala lain dalam melakukan perubahan adalah kecenderungan pada rutinitas tanpa kreativitas. Segala sesuatu dibiarkan seperti biasa. Tak ada gagasan dan kegiatan baru. Inisiatif nyaris sirna. Jika ada usul kegiatan baru, alasan klasik yang sering diungkapkan adalah tidak ada dana. Padahal, seringkali dana akan lebih mudah didapatkan jika kita sudah memulai sesuatu, bukan dengan berdiam diri.
Miskin kreativitas itu juga disebabkan oleh kemalasan dan cari aman. Kalau Anda punya gagasan, Anda harus mengawal gagasan itu hingga terlaksana dalam kenyataan. Anda dan anak buah tentu akan capek. Bukankah lebih enak duduk santai saja menikmati kursi? Apalagi, gagasan baru kadangkala berlawanan dengan yang lama sehingga melahirkan konflik. Daripada dimusuhi, bukankah lebih aman diam saja?
Gurita Kepentingan
Penghalang paling berat bagi perubahan adalah gurita kepentingan, terutama kepentingan uang dan kekuasaan yang sudah lama berakar dalam menghunjam. Tak jarang seorang pelaku perubahan merasa letih dan putus asa menghadapi orang-orang yang sudah lama bersekongkol. Orang-orang ini tentu akan bersatu menyerang pelaku perubahan ketika perubahan dinilai mengganggu kepentingan mereka.
Di sisi lain, pelaku perubahan sendiri sangat menentukan keberhasilan dan kegagalannya.
Pengalaman saya menunjukkan kelemahan saya sebagai pelaku perubahan. Mungkin saya dipandang arogan di mata mereka. Mungkin saya gagal meyakinkan mereka bahwa perubahan adalah agenda bersama untuk kebaikan bersama. Mungkin saya sendiri kurang sabar, ingin perubahan segera terlaksana.
Selain itu, pelaku perubahan harus menyadari berbagai keterbatasan yang meliputi dirinya. Seperti dikatakan para filosof idealisme, pikiran itu lebih sempurna dari kenyataan. Pikiran lebih sederhana dibanding kenyataan yang lebih rumit. Selain itu, setiap orang memiliki keterbatasan. Ada kenyataan yang bisa diubah, dan ada pula yang tidak. Berusaha mengubah yang mustahil adalah kesia-siaan.
Alhasil, untuk menjadi lebih baik, orang harus mau mengubah dan berubah. Sepeda yang tak dikayuh akan roboh. Tubuh yang tak bergerak akan lumpuh. Batu yang tak bergulir akan berlumut. Pemimpin yang tak mengubah apa-apa, adanya sama dengan tidak adanya
Pengalaman saya menunjukkan kelemahan saya sebagai pelaku perubahan. Mungkin saya dipandang arogan di mata mereka. Mungkin saya gagal meyakinkan mereka bahwa perubahan adalah agenda bersama untuk kebaikan bersama. Mungkin saya sendiri kurang sabar, ingin perubahan segera terlaksana.
Selain itu, pelaku perubahan harus menyadari berbagai keterbatasan yang meliputi dirinya. Seperti dikatakan para filosof idealisme, pikiran itu lebih sempurna dari kenyataan. Pikiran lebih sederhana dibanding kenyataan yang lebih rumit. Selain itu, setiap orang memiliki keterbatasan. Ada kenyataan yang bisa diubah, dan ada pula yang tidak. Berusaha mengubah yang mustahil adalah kesia-siaan.
Alhasil, untuk menjadi lebih baik, orang harus mau mengubah dan berubah. Sepeda yang tak dikayuh akan roboh. Tubuh yang tak bergerak akan lumpuh. Batu yang tak bergulir akan berlumut. Pemimpin yang tak mengubah apa-apa, adanya sama dengan tidak adanya
No comments:
Post a Comment