Friday, 20 July 2018

KEJAWAAN


Kemuncullan kesulitan selepas kami mudik ke kampung halaman. Anda tahu, seorang anak sebelas tahun yang hidup pada 2018 tidak bisa begitu saja dijejali dogma-dogma. Maka, ketika saya memintanya untuk bahagia dan bangga menjadi anak Jawa Banjarnegara, dia bertanya kenapa. Saya pun geragapan berusaha mencari jawabnya. Kenapa dia harus bangga menjadi anak Jawa Banjarnegara? Bahkan lebih mendasar lagi: kenapa dia harus merasa sebagai anak Jawa atau Banjarnegara, dan menghilangkan imajinasi lamanya sebagai "anak Kalimantan"?
Satu-satunya pertimbangan yang bisa dicerna seorang anak dalam hal ini adalah perkara-perkara kognitif. Kenapa dia harus mencintai Jawa, sedangkan sebagian besar hal di Kotabaru Kalimantan Selatan dia lihat lebih baik daripada di Jawa? Mulai jalanan yang lebih tertib, lingkungan yang lebih bersih, burung-burung cantik yang bebas beterbangan, taman bermain yang gratis di mana-mana, sampai toilet umum yang tidak pesing dan tidak perlu bayar infak dua ribu untuk masuk ke sana. Bagaimana kami harus melawan jalan pikiran kanak-kanak yang demikian apa adanya?
Saya mencoba menggunakan senjata Lagu-lagu jawa dan kuliner yang sangat khas, yang selalu mengingatkan saya akan suara masa lalu. Ada satu aspek penting yang ditekankan dalam lagu itu, yakni "dawet ayu". Maka, saya katakan, "Kamu harus mencintai Jawa karena kamu lahir di Indonesia, Nak."
Sial, saya kaget dengan jawabannya. "Lho, berarti Ufa nggak harus lovesJawa? Kan Ufa lahir di Kalimantan? Berarti Ufa bukan Jawa, Yah? Ufa Kalimantan! Yeeee!"
Dhuer, matilah saya. Barulah saya ingat kalau Ufa memang lahir di Kalimantan tiga setengah tahun silam. Saya pun gagal menggunakan sepotong lirik di lagu dawet ayu yang khas Banjarnegara itu. Lalu?
"Hmmm. Coba begini. Kamu suka kepingin lihat bapaknya Ryan di Youtube Toys Review, kan? Karena bapaknya Ryan sering banget membelikan mainan, Kinderjoy-Kinderjoy dan banyak lagi, ya kan? Nah, Ayah enggak suka membelikan yang begitu-begitu. Berarti kamu mau ganti Ayah? Kamu mau bapaknya Ryan jadi bapakmu?"
Anak saya tertawa-tawa sambil memukuli lengan saya.
"Nah, kalau kamu nggak mau, coba lihat. Jawa tuh seperti orang tuamu sendiri. Mungkin Kalimantan bisa ngasih kamu macam-macam, tapi dia bukan orang tuamu. Begitu."
Tentu saja argumen saya itu cuma langkah putus asa, dari seorang bapak yang terpaksa membuat analogi masalah dengan tidak cukup setara. Lhatapi saya bisa apa?
Meski kasus anak saya agak khusus, tapi saya yakin dia tak sendiri. Ada sangat banyak anak Jawa yang sulit memahami kejawaan mereka, dengan kondisi lebih parah ketimbang anak saya. Bisa jadi karena mereka menjalani masa tinggal yang lebih panjang di daerah tersebut. Bisa jadi mereka sudah kehilangan bahasa Jawa mereka. Bisa jadi karena mereka dimasukkan ke sekolah-sekolah internasional yang agak menomorduakan pembentukan kesadaran murid sebagai manusia Jawa. Dan lain-lain.
Sekarang coba simak situasinya. Bahasa adalah pengikat utama imajinasi kebangsaan. Dengan menipisnya penggunaan bahasa Jawa, bagaimana ikatan imajiner itu diharapkan akan sekuat sebelumnya?
Ini sekilas tampak sebagai kekhawatiran berlebih. Namun, fakta sosial yang agak menggelikan memang saya lihat sendiri berkali-kali, yakni ketika sebagian orangtua merasa keren jika berhasil membuat anak mereka menjadi English speaker atau indonesia speaker seutuhnya. Nah, yang semacam ini lambat laun menjadi fenomena lazim di masyarakat kelas menengah perkotaan.
Bayangkan. Anak-anak itu semakin kurang dalam menggunakan bahasa Indonesia. Di saat yang sama, mereka mendapat akses sangat mudah atas dunia digital yang melesapkan batas-batas geografis, sehingga terus terpapar dengan realitas kampung global yang kian menyempit, dan membuat mereka tidak terlalu peduli kaki mereka sedang menginjak wilayah negara mana. Mereka juga anak-anak yang lebih memilih berkunjung ke Disneyland daripada ke proyek-proyek keindonesiaan semacam Taman Mini Indonesia Indah, apalagi ke Museum Nasional.
Lalu, sampai kapan kita berharap anak-anak tersebut terus terkondisi untuk membangun imajinasi kejawaan dalam kepala-kepala mungil mereka? Apakah mereka akan cukup peduli Pancasila, misalnya? Kalau toh peduli, dan mereka melihat sila-sila Pancasila sebagai nilai-nilai moral berupa ketuhanan, kemanusiaan, musyawarah, dan keadilan, lalu bagaimana pandangan mereka atas Sila Persatuan Indonesia yang barangkali terlalu abstrak bagi pikiran mereka?
Entah pertanyaan-pertanyaan itu akan terus mengalir ke mana. Yang jelas, ancaman atas kejawaan kita, dan ancaman atas Pancasila, ternyata tidak semata datang dari kalangan so called radikal semata. Karena itulah, di bulan kelahiran Pancasila ini, saya berharap Ibu Mega selaku Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila membantu saya untuk segera menemukan jawabannya.  

No comments:

Post a Comment