Friday, 20 July 2018

KOMUNITAS


Penampilan kita, warna kulit kita, karakter fisik dan wajah kita, pakaian kita, adalah serangkai atribut yang selalu kita bawa ke mana-mana. Identitas itu menjadi penanda, dan tak jarang kita posisikan sebagai bagian dari harga diri dan kebanggaan.
Akan tetapi, tak jarang kita alpa bahwa identitas dan atribut juga membawa konsekuensi-konsekuensi turunan. Orang lain akan mengidentifikasi kita berdasar atribut kita, untuk kemudian membangun klasifikasi. Dengan klasifikasi, orang yang membawa atribut yang sama dengan atribut kita secara simplistis akan dianggap sebagai orang-orang yang sama belaka dengan kita.
Kalau mereka yang seidentitas dengan Anda berbuat baik, citra kebaikan itu akan sampai pula kepada Anda. Sebaliknya, jika mereka berbuat antisosial atau apa pun yang buruk dalam kesepakatan publik, maka yang buruk itu pun akan menimpa Anda.
Dari landasan logika normal semacam itulah, stereotip bahkan rasisme muncul. Itu jika terkait hal-hal yang negatif. Nah, tak bisakah kita balik? Alih-alih terus mengecam sikap-sikap rasis, sebenarnya kita sangat bisa melawan stigma dengan berselancar di atas hukum pasar identitas.
masyarakat yang beradab, bermartabat, punya kepekaan sosial, dan siap rukun bertetangga dengan siapa saja.
Oh, maaf. Saya lupa, dari tadi cuma ngomong soal identitas agama. Padahal maksud saya bukan semata seperti itu. Agama hanyalah salah satu saja di antara banyak sekali manifestasi atribut dan identitas yang melekat di diri kita. Kita punya stiker-stiker lain yang tertempel di jidat kita. Bisa pekerjaan, tingkat pendidikan, kebangsaan, kota asal, kampung kelahiran, atau apa pun.

No comments:

Post a Comment