Masuk sekolah favorit justru saya mengalami fase awal masa remaja yang suram dan penuh rasa rendah diri. Saya yang selalu dapat peringkat standar-standar saja di SD tiba-tiba harus duduk ngesot di ranking bontot. Saya yang bisa bergaul santai dengan teman-teman kampung tiba-tiba harus tercebur ke pergaulan bersama anak-anak pejabat yang berpunya dan berfasilitas full lux yang lengkap lengkip pokoknya, yang membuat saya kadang ternganga karena semesta perbincangan yang tak saya pahami sepenuhnya.
Bagi seorang anak umur 12 tahun, ternyata itu sangat berat. Masih mendingan kalau memang metode pendidikan kualitas nomor wahid yang saya dapatkan. Otak saya bukan wahid, ya nggesot dan seperti kompor meledog....ha....ha.....
Begitu lulus SMP, harus berlomba masuk ke SMA terfavorit. Dengan beban psikologis seorang anak lulusan SMP favorit harus SMA walau SMA swasta favorit, dimasa saya banyak mengukir prestasi dan temen-temen banyak meraup prestasi yang paling handal yaitu drumband, sepak bola, basket, pramuka dan lain-lain.
Kita lompati cerita masa SMA yang terlalu indah itu. Tibalah masa kuliah. Di bangku universitas, ada satu hal yang membuat saya minder untuk kali ke sekian. Ternyata, kawan-kawan saya dari daerah-daerah lain pintar-pintar. Mereka sudah tahu ini-itu sejak SMA. Mereka membaca buku ini-itu sejak SMP. Apalagi anak-anak lulusan pesantren itu, mereka benar-benar membuat saya merasa tidak tahu apa-apa. mereka gemar membaca sejak dini sedang saya, wah sangat memprihatinkan, gau usah dibahas yang ini, jadi ingin malu, ha....ha.....
Lantas, saya mencoba menata teori tentang ini semua. Akar masalahnya ternyata sederhana: karena saya produk sekolah-sekolah favorit.
Karena sekolah saya favorit, guru-guru kami berjuang keras agar predikat favorit itu tidak lepas dari genggaman tangan. Caranya bermacam-macam. Bayangkan, jika nilai kami jeblok, bisa jadi ranking sekolah kami turun. Jika ranking sekolah turun, predikat favorit bisa hilang. Jika predikat favorit hilang, mana mau para orangtua berbondong-bondong berebut tempat dengan biaya masuk yang begitu tinggi?
Kami harus berangkat pukul enam pagi untuk mengikuti latihan tes, alias pendalaman materi. Begitu terus setiap hari. Sejak kelas dua, atau awal kelas tiga, segenap konsentrasi dan daya upaya dikerahkan menuju gol jauh di depan, yaitu bagaimana nilai Ebtanas kami melejit, dan bagaimana agar kami lolos semua ke perguruan tinggi negeri.
Dengan suasana kebatinan seperti itu, semua anak tertekan. Semua berjuang habis-habisan agar lolos UMPTN, Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri. Setelah pengumuman UMPTN tersebar, sekolah akan menyulap nama-nama kami yang berhasil menjadi angka-angka statistik kesuksesan sekolah, dan melupakan anak-anak yang gagal.
Maka, saya ingat, betapa saya ambruk sedih berat ketika mengetahui nama saya tidak ada di koran Kedaulatan Rakyat sebagai salah satu peserta UMPTN yang berjaya. karena memang tekanan peer group begitu berat. jelas tidak pernah diperhitungkan oleh guru-guru kami belasan tahun sebelumnya. setelah lama saya baru tau kampus swasta sekarang bisa berkwalitas lebih baik dari yang negeri, contohnya kampus sayapun banyak yang berebut untuk bisa masuk.
Lagi-lagi, alasannya jelas: hanya mereka yang lolos UMPTN yang akan mendongkrak nama sekolah, menjadikan sekolah tetap berpredikat favorit, dan menjadi kekuatan marketing yang dahsyat untuk menjaring siswa-siswa baru di tahun ajaran berikutnya. Simpel. Hukum pasar yang sangat simpel.
"Kalian ini hebat, teman-teman. Dunia kreatif dan intelektual selalu diramaikan oleh para pendatang. Saya orang asli kota ini, tapi saya sangat terlambat. Saya mengenal buku baru di tahun ketiga kuliah, padahal kalian akrab dengan bacaan sejak SMA. Di SMA, apalagi SMP, saya sama sekali tidak mengenal budaya membaca. Yang ada hanyalah budaya bermain dan bermain setiap hari belajar hanya selingan itu pun kalau sedang mau dan dipaksa oleh orang tua, demi meraih nilai tinggi di ujian akhir, agar sekolah kami tetap bertahan dalam predikat sekolah-sekolah favorit."
Huff, kira-kira begitulah secuil gambaran nyata sekolah-sekolah favorit kita. Barangkali tidak cukup mewakili, namun dari situ Anda bisa sedikit memahami betapa amat mendesaknya penerapan sistem zonasi.
No comments:
Post a Comment