Berpuasa Ramadan pada level yang pertama cukup dijalankan dengan tidak makan, tidak minum, dan tidak berhubungan seksual. Itu merupakan level perlawanan kepada naluri dasar manusia, nafsu paling primitif yang derajatnya hewani. Puasa di level kedua menambahkannya dengan tidak berbohong, tidak memfitnah, tidak menggunjing orang lain, tidak marah, dan tidak bertengkar. Bukan lagi sekadar nafsu primitif yang dihajar, melainkan ego.
(Untuk level-level selanjutnya silakan tanya kepada ustadz terdekat di kampung Anda.)
Saya tidak tahu apakah berandai-andai juga dapat merusak puasa. Namun andai memang warga linimasa meredam keributan demi menjalankan spirit Ramadan, saya kira sikap demikian layak dilanjutkan untuk seterusnya, tidak terbatas cuma ketika Ramadan. Dari situ, akan ketemulah kunci solusi segala riuh rendah tak berguna selama ini.
Coba bayangkan. Jika kita menahan diri untuk tidak berbohong dan memfitnah, tentu kita juga tidak bakal menyebarkan kabar hoax yang efeknya bisa jauh lebih luas ketimbang sekadar kata-kata dusta. Tidak bakalan juga kita main tuduh sembarangan, seperti orang yang kemarin menyebut bom Kampung Melayu sebagai pengalihan isu itu tuh hehe.
Bayangkan lebih lanjut. Jika dengan spirit Ramadan kita menahan diri untuk tidak berbantahan dan bertengkar di medsos, alangkah syahdunya malam-malam yang akan kita lewati nanti. Berdebat mungkin tetap akan berdebat, tapi sembari mengingat rambu dari Alquran Surah An-Nahl ayat 125, "...bil hikmah wa mau'idhotil hasanah, wajaadilhum billatii hiya ahsan." Dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.
Bila prinsip itu bisa kita pegang, maka tak akan lagi ada debat sambil mengumpat-ngumpat. Tak ada lagi debat dengan ad hominem, menilai kualitas argumen lawan debat dari stempel yang telah telanjur dijatuhkan, semacam "Dasar liberal!" atau "Dasar wahhabi!" Tak ada juga debat sambil mengobral label-label sembrono yang berbau stereotipikal bahkan condong ke rasis, semisal "Kecebong mana mau dengaaar...."; "Yaaah onta gurun bersorban mah gitu daaah...." dan lain-lain yang tak enak di kuping gitu.
Debat-debat akan meningkat kualitasnya. Bekal yang akan dibawa dan disajikan adalah data dan logika, bukan asumsi apalagi imajinasi. Semua berfokus pada materi perdebatan secara objektif, tidak belok kiri-kanan dengan serangan personal.
Mari berkhayal lebih jauh lagi. Kalau kita bisa menjalankan tradisi perdebatan atau pembahasan isu apa pun dengan lebih bermartabat dan tertib nalar, sudah tentu percepatan edukasi publik akan luar biasa.
Coba bandingkan. Dulu di masa kecil saya, ketika Pak Harto sangat membatasi gerak informasi, memang tak ada aneka keributan seperti sekarang ini. Pengetahuan politik yang dipahami orang-orang masa itu ya palingan cuma nama-nama menteri dan pejabat tinggi negara. Menkopolkam Sudomo, Menteri Perindustrian Hartarto, Menteri Urusan Peranan Wanita Sulasikin Moerpratomo, Panglima ABRI Jendral TNI LB Moerdani, dan menteri di atas segala jenis menteri yakni Menteri Penerangan Harmoko.
Sisanya, pengetahuan masyarakat maksimal hanya terkait peresmian proyek-proyek negara, juga program-program pemerintah seperti Keluarga Berencana, Koperasi Unit Desa, ABRI Masuk Desa, Klompencapir, dan swasembada pangan. Tak ada ulasan rinci tentang korupsi di instansi ini-itu, apalagi monopoli perdagangan komoditas anu oleh keluarga penggede, juga kabar-kabar negatif lainnya.
Bandingkan dengan sekarang. Semua orang tumbuh dengan semangat belajar politik yang meletup-letup. Kita jadi sangat paham peta, tokoh ini di kubu mana, tokoh itu di kelompok siapa. Kita mengerti alur kejadian korupsi helikopter beserta segenap kronologinya. Kita jadi belajar teori-teori hukum. Apa itu penistaan agama menurut undang-undang, apa itu aksi demo, apa saja larangannya, bagaimana kriteria makar dan bukan makar, dan lain-lain.
Kita bahkan belajar ilmu tata kota. Apakah benar normalisasi sungai mengurangi banjir, bagaimana kaitan penggusuran dan kemacetan, dan entah apa lagi. Juga topik-topik lain, segala hal yang tak terbayangkan akan kita pelajari dengan penuh nafsu di zaman Orde Baru.
Lalu kenapa kita begitu rajin mempelajari itu semua? Jelas, nggak usah dibahas: untuk menghajar lawan-lawan politik kita sendiri dalam debat-debat di linimasa. Hahaha!
Repotnya, selama ini kita sering melenceng dari konten perdebatan yang sesungguhnya. Hasilnya, acapkali "dialektika kebudayaan" yang kita jalankan tidak membuahkan produk apa-apa, selain kericuhan, blokir-memblokir, perkelahian lanjutan di alam nyata, dan gugatan lewat polisi.
Silakan Anda sebut saya inlander atau antek asing atau apalah.
Maka saya membayangkan, jika spirit Ramadan di medsos bisa terus dilanjutkan, akibatnya bukan cuma disintengrasi sosial yang bisa dicegah. Yang lebih menyenangkan lagi adalah pendidikan publik yang mantap. Masyarakat yang selama ini belum selesai dengan literasi cetak dan tiba-tiba gagap mendapatkan banjir informasi dari internet, bisa jauh lebih cerdas dengan modal spiritual berupa sikap menahan diri.
Saya paham, apa yang saya bayangkan ini memang agak ketinggian sebagai sebuah cita-cita. Toh saya sendiri masih sering norak dalam bermedsos hehehe. Namun tetap perlu kita bertanya, beranikah kita berkomitmen melanjutkan "Ramadan" kita di linimasa?
No comments:
Post a Comment