Sebenarnya, sampai hari ini kita masih bisa menemukan orang-orang yang menyukai takhayul dan ilmu ghaib, Terbukti dari kasus penggandaan uang yang dilakukan oleh Dimas Kanjeng Taat Pribadi beberapa waktu lalu. Banyak orang—bahkan seorang intelektual—yang tertipu dengan kibul Dimas Kanjeng.
Di zaman sekarang, kualitas manusia Indonesia telah semakin runyam ketika hoax bisa begitu mudah dimamah oleh masyarakat kita. Mulai dari hoax yang mengatakan bahwa presiden kita adalah PKI sampai hoax terkini tentang Mahapatih Gajah Mada memiliki nama asli Gaj Ahmada dan seorang muslim. Barangkali, jika pahlawan kita masih hidup, mudah percaya pada hoax juga bisa dimasukkan ke daftar ciri-ciri manusia Indonesia.
Hoax dan
takhayul bisa digolongkan sebagai beberapa jenis kuman pikiran yang
sangat berbahaya bagi akal. Sebab, akal adalah salah satu instrumen
penting yang menjadi penentu segala tindak-tanduk manusia. Maka, sungguh
celaka ketika jika akal dicemari oleh berbagai macam kuman pikiran.
Akal akan jadi barang rombeng yang tak berguna. Alhasil, akal tak bisa
lagi menjaga manusia dari tindakan-tindakan menyimpang—jika tak boleh
disebut tindakan bodoh.
Orang-orang yang pikirannya terpapar kuman-kuman pikiran niscaya tak akan bisa berpikir dengan alur logika yang lurus. Mereka, hanya akan berpikir dan bertindak dengan persepsi yang mereka imani. Para pakar, menyebut itu sebagai post-truth. Dan, tentu saja ini gawat. Bangsa ini akan selalu terjatuh pada masalah yang diciptakan kebodohan.
Maka, seharusnya Ramadan tidak hanya jadi waktu yang tepat untuk menyucikan hati, namun juga bisa jadi momen yang tepat pula untuk menyucikan akal. Menyucikannya dari kuman-kuman pikiran—seperti hoax dan logika ghaib, misalnya.
Menyucikan hati memang merupakan kewajiban bagi setiap insan manusia. Tapi, menelantarkan akal di lembah kebodohan adalah haram hukumnya. Kita tentu ingat bahwa ayat pertama yang diterima Sang Nabi adalah tentang pentingnya membaca. Itu adalah isyarat bahwa seseorang tak boleh jadi bodoh.
Orang yang hatinya kotor, penyakitnya adalah sifat culas. Hatinya dipenuhi kedengkian dan niat jahat. Namun, orang yang akalnya kotor bisa mengidap lebih banyak penyakit. Ia bisa menjadi culas, dungu dan mudah diadu domba. Barangkali derajatnya tak jauh dengan seekor domba aduan yang hanya bisa memamah rumput, mengembik dan adu tanduk.
Jika domba itu tak bisa bertarung lagi, maka ia hanya menunggu untuk disembelih.
Orang-orang yang pikirannya terpapar kuman-kuman pikiran niscaya tak akan bisa berpikir dengan alur logika yang lurus. Mereka, hanya akan berpikir dan bertindak dengan persepsi yang mereka imani. Para pakar, menyebut itu sebagai post-truth. Dan, tentu saja ini gawat. Bangsa ini akan selalu terjatuh pada masalah yang diciptakan kebodohan.
Maka, seharusnya Ramadan tidak hanya jadi waktu yang tepat untuk menyucikan hati, namun juga bisa jadi momen yang tepat pula untuk menyucikan akal. Menyucikannya dari kuman-kuman pikiran—seperti hoax dan logika ghaib, misalnya.
Menyucikan hati memang merupakan kewajiban bagi setiap insan manusia. Tapi, menelantarkan akal di lembah kebodohan adalah haram hukumnya. Kita tentu ingat bahwa ayat pertama yang diterima Sang Nabi adalah tentang pentingnya membaca. Itu adalah isyarat bahwa seseorang tak boleh jadi bodoh.
Orang yang hatinya kotor, penyakitnya adalah sifat culas. Hatinya dipenuhi kedengkian dan niat jahat. Namun, orang yang akalnya kotor bisa mengidap lebih banyak penyakit. Ia bisa menjadi culas, dungu dan mudah diadu domba. Barangkali derajatnya tak jauh dengan seekor domba aduan yang hanya bisa memamah rumput, mengembik dan adu tanduk.
Jika domba itu tak bisa bertarung lagi, maka ia hanya menunggu untuk disembelih.
No comments:
Post a Comment