Pernahkan anda membuat sebuah perjanjian atau persetujuan dengan rekan bisnis anda, teman anda, pacar anda atau siapa pun? Saya yakin ketika komitmen atau perjanjian itu dibuat, maka hal tersebut didasarkan atas persetujuan kedua belah pihak, tanpa paksaan untuk sama-sama berkomitment menjalankan perjanjian atau persetujuan tersebut dengan sebaik-baiknya. Tidak ada pikiran sedikit pun untuk mengingkari. Paling tidak semangat itulah yang muncul sesaat ketika perjanjian itu sudah disetujui kedua belah pihak.
Mungkin bagi anda akan menjadi pukulan yang sangat berat. Anda seolah-olah tidak habis-habisnya geleng-geleng kepala dan heran bukan kepalang. Mungkin anda akan terus bertanya-tanya dan tidak habis pikir, bisa-bisanya rekan anda tersebut membohongi anda. Mungkin anda tiap detik akan bergumam,”masa sih dia bisa begitu, kok tega-teganya dia membohongi aku. Apa sih yang terlintas dalam pikiran dia setiap kali dia mengingkari perjanjian, apakah tidak takut dosa, apakah tidak takut karma datang kepadanya, apakah tidak takut dia didoakan yang jelek-jelek oleh orang yang dibohongi. Padahal kalau melihat cara berpakaiannya menunjukkan dia orang yang sopan dan taat beragama?”
Don’t judge the book by it’s cover. Biasanya ungkapan ini digunakan dalam sisi positif. Artinya kita jangan meremehkan kemampuan seseorang hanya melihat dari tampilan luarnya saja. Misal, kita jangan meremehkan keahlian seseorang atau kepinteran seseorang hanya karena dia berkulit hitam, atau berwajah jelek, atau asalnya dari pelosok desa. Karena belum tentu mereka dengan kondisi seperti itu lebih bodoh dari kita, mungkin malah sebaliknya mereka lebih pintar dan lebih jago segala-galanya dari kita.
Namun ternyata ungkapan di atas bisa juga digunakan untuk menggambarkan supaya kita hati-hati kepada seseorang, jangan begitu mudah percaya membuat sebuah perjanjian, komitmen, kerja sama hanya didasarkan oleh rasa saling percaya (trust) hanya karena kita melihat tampilan orang tersebut dari luar, klimis, berdasi, berjas, berpakaian yang seolah taat beragama dan lain sebagainya. Ada baiknya kita mengenal pribadi dan watak orang tersebut lebih dalam, jangan mudah percaya. Karena ternyata ada beberapa orang yang menjadikan rasa percaya (trust) yang anda berikan kepada orang tersebut hanya seperti sebuah mainan. Bisa dia mainkan kapan saja sesuai dengan suasana hati, perasaan dia, angin-anginan tergantung situasi dan kondisi yang sekiranya menguntungkan dia.
Ketika anda menjumpai karakter orang tersebut, kira-kira sikap anda bagaimana? tentunya anda akan semakin berhati-hati. Begitu rasa percaya yang anda berikan tersebut dikhianati dan dihancurkan, tentu saja sikap respect atau hormat yang dulu pernah anda berikan kepada rekan anda tersebut, akan luntur dengan sendirinya, cepat ataupun lambat. Sekali dia merusak rasa percaya (trust) yang anda berikan, maka anda pun akan bersikap lebih hati-hati ketika berhubungan dengan dia. Karena sekarang anda tahu, teman anda tersebut tidak dapat dipercaya. Seperti kata pepatah,”Dipegang ekornya mendongak kepalanya, dipegang kepalanya menjungkit ekornya”.
No comments:
Post a Comment