Depresi yang akhirnya membawanya melakukan tindakan nyeleneh. Pengaruh adiktif obat-obatan terlarang menjadikan nalar waras seseorang menjadi rapuh dan sulit untuk berpikir dan berperilaku rasional.
Kita bisa memahami keras dan kompetitifnya jagat hiburan –yang memaksa banyak individu di panggung seni hiburan untuk terus-menerus melahirkan atau menciptakan ide-ide kreatif agar bisa tetap bertahan. Dan, benar, tekanan pekerjaan menjadi salah satu alasan para pelakon seni hiburan mencari cara agar tidak mati ide, dan lelah dalam menjalani kehidupan rutinitas menjemukan mereka.
Alhasil, seperti banyak kisah, depresi menjadi salah satu karib paling potensial dalam kehidupan para pekerja seni. Dan, seperti kita ketahui, terapi sederhana melarikan diri dari belitan depresi adalah obat-obatan terlarang atau narkoba.
Alasan sederhana ini yang menjadi pembenaran bagi seorang Ridho Rhoma,
penyanyi dangdut untuk mengonsumsi sabu. Sabtu (26/3), polisi menangkap
putra raja dangdut Rhoma Irama itu karena mengonsumsi narkoba jenis
sabu. Kepada polisi, Ridho mengakui mengonsumsi narkoba karena tekanan
pekerjaan.
Jujur saja, kita tidak melihat penangkapan pesohor seperti Ridho Rhoma bukan lagi sesuatu yang menghebohkan. Karena, jika kita merunut kasus-kasus yang terjadi, sudah sedemikian banyak pesohor di pangung seni hiburan di Tanah Air yang terperangkap dalam belitan narkoba. Dan, ini pun kita yakini belum akan berakhir. Artinya, Ridho Rhoma , bisa jadi bukan yang terakhir, bakal masih ada lagi mereka yang terlibat narkoba berurusan dengan aparat penegak hukum.
Kita bisa memahami para pekerja di jagat hiburan, tidak bisa dilepaskan dari rutinitas yang membutuhkan tenaga dan pikiran ekstra agar bisa tetap eksis. Bagaimana agar tetap ceria, tetap segar, tetap fokus? Akhirnya mereka memilih pakai narkoba sebagai jalan keluar yang justru sebenarnya sangat tidak baik bagi kesehatan secara fisik dan psikis.
Katanya, kokain atau sabu, kerap digunakan kalangan mereka yang supersibuk. Seseorang yang menggunakan kokain membuatnya akan merasa ‘hype’ atau semangat sepanjang waktu. Di sisi lain, salah satu penyebab artis menggunakan narkoba karena gaya hidup. Memang, tidak semua. Tapi, harus diakui, gaya hidup artis menuntut mereka agar bisa sedemikian rupa dan berbeda dengan orang biasa. Dan, menjaga agar selalu berbeda dari orang lain itu pula yang menyebabkan nalar waras para pekerja seni menjadi bermasalah.
Dan, ujungnya seperti yang banyak terjadi pada para pesohor di jagat seni berakhir dengan kedukaan dan kenistaan. Narkotika dan obat-obatan terlarang (narkoba) sengaja mengantarkan para pekerja seni dalam jurang gelap: kesia-siaan hidup. Lalu, sampai kapan
Jujur saja, kita tidak melihat penangkapan pesohor seperti Ridho Rhoma bukan lagi sesuatu yang menghebohkan. Karena, jika kita merunut kasus-kasus yang terjadi, sudah sedemikian banyak pesohor di pangung seni hiburan di Tanah Air yang terperangkap dalam belitan narkoba. Dan, ini pun kita yakini belum akan berakhir. Artinya, Ridho Rhoma , bisa jadi bukan yang terakhir, bakal masih ada lagi mereka yang terlibat narkoba berurusan dengan aparat penegak hukum.
Kita bisa memahami para pekerja di jagat hiburan, tidak bisa dilepaskan dari rutinitas yang membutuhkan tenaga dan pikiran ekstra agar bisa tetap eksis. Bagaimana agar tetap ceria, tetap segar, tetap fokus? Akhirnya mereka memilih pakai narkoba sebagai jalan keluar yang justru sebenarnya sangat tidak baik bagi kesehatan secara fisik dan psikis.
Katanya, kokain atau sabu, kerap digunakan kalangan mereka yang supersibuk. Seseorang yang menggunakan kokain membuatnya akan merasa ‘hype’ atau semangat sepanjang waktu. Di sisi lain, salah satu penyebab artis menggunakan narkoba karena gaya hidup. Memang, tidak semua. Tapi, harus diakui, gaya hidup artis menuntut mereka agar bisa sedemikian rupa dan berbeda dengan orang biasa. Dan, menjaga agar selalu berbeda dari orang lain itu pula yang menyebabkan nalar waras para pekerja seni menjadi bermasalah.
Dan, ujungnya seperti yang banyak terjadi pada para pesohor di jagat seni berakhir dengan kedukaan dan kenistaan. Narkotika dan obat-obatan terlarang (narkoba) sengaja mengantarkan para pekerja seni dalam jurang gelap: kesia-siaan hidup. Lalu, sampai kapan
No comments:
Post a Comment