Indonesia kini adalah negara tercerewet. Cerewet memang sebuah aktivitas banyak bicara yang tanpa konsep. Pertanyaan selanjutnya, mungkinkah kita berharap semua orang bicara dengan konsep?
Idealnya, seseorang sampai kapan pun tak boleh berhenti belajar. Perintah menuntut ilmu bukan hanya diikuti keterangan soal jarak dan ruang, tetapi juga konteks minal mahdi ilal lahdi. Manusia wajib mengilhami ilmu sejak ayunan hingga sampai ke liang lahat.
Permasalahannya, siapakah orang-orang dewasa cerewet yang memiliki efek
bahaya hingga tujuh turunan ini? Di mana orang harus belajar selepas
usia sekolah dan kuliah? Bagaimana para pekerja, utamanya yang memiliki
iklim kerja yang tidak memberikan nutrisi apapun untuk pemikiran
mendapat ruang belajar? Lalu, bagaimana para pekerja frustrasi yang tak
sudi membaca buku pula ini ketika mendapat tanggung jawab mengadakan
pengasuhan di rumah?
Masa sebelum ini, kita masih akrab dengan istilah kerja bakti dan gotong royong. Di kampung-kampung, sistem budaya seperti sambatan (membantu tetangga yang memiliki hajatan tanpa dibayar) dan jimpitan (iuran beras sekepalan tangan yang biasanya diletakkan pada teras rumah dan dikumpulkan untuk kegiatan warga) pernah berkembang. Sistem budaya yang memunculkan keterlibatan interaksi itu, di masa lalu, sekaligus menjadi media pertukaran informasi dan sistem komunikasi yang efektif.
Selain itu, acara kumpul-kumpul warga tanpa disadari adalah bentuk ruang belajar bersama. Hasilnya, misinformasi sangat jarang terjadi, bersama dengan etika budaya yang juga begitu dijaga.
Manusia semakin modern dan teknologi semakin bergerak ke arah yang tidak pernah kita duga-duga. Tetapi, manusia kewalahan mengiringi kecepatan teknologi itu dengan sistem budaya baru untuk mengikutinya.
Celaka sungguh, karena teknologi di genggaman memungkinkan orang mengetik dan mengunggah apa saja. Orang-orang dewasa cerewet itu, selain kesepian dan frustrasi, jelasnya mereka pasti termasuk golongan yang berhenti belajar. Mereka sudah tidak sekolah, tidak sudi membaca buku, dan tidak memiliki ruang ilmu yang sehat.
Masa sebelum ini, kita masih akrab dengan istilah kerja bakti dan gotong royong. Di kampung-kampung, sistem budaya seperti sambatan (membantu tetangga yang memiliki hajatan tanpa dibayar) dan jimpitan (iuran beras sekepalan tangan yang biasanya diletakkan pada teras rumah dan dikumpulkan untuk kegiatan warga) pernah berkembang. Sistem budaya yang memunculkan keterlibatan interaksi itu, di masa lalu, sekaligus menjadi media pertukaran informasi dan sistem komunikasi yang efektif.
Selain itu, acara kumpul-kumpul warga tanpa disadari adalah bentuk ruang belajar bersama. Hasilnya, misinformasi sangat jarang terjadi, bersama dengan etika budaya yang juga begitu dijaga.
Manusia semakin modern dan teknologi semakin bergerak ke arah yang tidak pernah kita duga-duga. Tetapi, manusia kewalahan mengiringi kecepatan teknologi itu dengan sistem budaya baru untuk mengikutinya.
Celaka sungguh, karena teknologi di genggaman memungkinkan orang mengetik dan mengunggah apa saja. Orang-orang dewasa cerewet itu, selain kesepian dan frustrasi, jelasnya mereka pasti termasuk golongan yang berhenti belajar. Mereka sudah tidak sekolah, tidak sudi membaca buku, dan tidak memiliki ruang ilmu yang sehat.
No comments:
Post a Comment