Hanya dalam hitungan satu-dua hari selepas kami meninggalkan Kalimantan untuk seterusnya dan mendarat di Yogyakarta, anak saya sudah mulai mengeluh. Wajahnya cemberut parah.
Bagi Ufa, anak saya, cuma Bandara itulah satu-satunya tempat bersih yang dia lihat di tanah tumpah darahnya. Selebihnya kotor di mana-mana. Jalanan yang bertaburan papan baliho yang menonjol-nonjol semrawut, sungai yang berair coklat diselingi sampah dan beda jauh dengan pertumahan kami tempati yang jernih membiru, juga lalu lintas yang tampak horor di matanya.
Mendengar keluhan itu, sontak harga diri kebangsaan saya bergejolak. "Heh apa kau bilang? Ini kota dengan penduduk seperempat miliar, mau kau bandingkan dengan benua yang cuma ngurus beberapa juta orang? kota ini pun jadi begini juga tak lepas dari hasil kelakuan kolonial selama ratusan tahun!
Untunglah saya ingat bahwa Ufa masih kanak-kanak berumur 8 tahun waktu itu SD kelas tiga setengah semester, dan dia juga anak saya sendiri. Maka saya cuma mengelus rambutnya, dan memintanya bersabar. "Nanti pelan-pelan kamu akan terbiasa, Nak. Ada banyak hal lain yang akan kamu sukai di sini."
Dari situ sejak awal kami harus memahami bahwa dalam masa transisi selepas kami pulang ke Joga dan Banjarnegara, Ufa yang bakalan paling berat menjalaninya dari pada saya yang memang asli dan kelahiran Banarnegara tentu nggak butuh adaptasi.
Maka, di sinilah kemampuan parenting saya ditantang, bagaimana agar bisa membimbing anak saya, membantunya menyeberangi masa berat ini dengan hati-hati.
***
Namun ketika emosinya menuju puncak, bahasa Indonesialah yang keluar. Maka saya langsung paham bahwa kerinduan hatinya kepada para sahabatnya benar-benar sedang membuka lukanya.
Yang lebih berat, kerinduan kepada teman itu dibarengi juga dengan tumpukan kenangan saat mereka bermain bersama di sekolahnya. Ini sudah perkara lain lagi. Taman-taman bermain di kalimantan memang tersedia di mana-mana, semuanya outdoor. Lengkap, gratis, bersih, aman, dan variatif. Hampir semua wahana permainan dibuat dari bahan fiberglassyang antikarat, dan memberikan kemerdekaan kepada anak-anak untuk melakukan olah fisik dengan gembira. Energi anak tersalurkan, otot-otot selalu terlatih, kegesitan badan juga terus meningkat.
Dalam kondisi bete melihatnya, ingin sekali saya kembali menceramahinya, "Ndhuk, kamu tahu nggak, banyak playground bagus disana itu dibikin dengan dana sumbangan dari Lotteriwest! Itu uang dari bisnis perjudian! Haram! Kamu mungkin senang bermain di sana, tapi kesenanganmu tidak akan membawa barokah!"
Untunglah saya masih waras dan mampu mengontrol diri, meski kemudian tak tahu harus mencari cara apa lagi. Anak saya pada hari-hari pertama itu masih terus mengusik rasa nasionalisme bapaknya, mengejek jawa Tanah Air Beta, seolah-olah tak ada satu pun hal menyenangkan di dalamnya.
Hingga kemudian, ada satu peristiwa yang membuka pintu harapan….
***
Sudah lama sekali saya tidak melihatnya makan selahap itu. Semangkok penuh, dan dia menyantapnya tanpa jeda, hingga cuma sedikit meninggalkan sisa. Saya memandang berbinar-binar ke wajah anak kami yang tampak diliputi rasa bahagia. Oh, pertolongan Tuhan telah tiba.
Warung Mie jawa, sebelah lucky optik banjarnegara. Semangkok Rp 10.000, dengan bumbu pekat dan rasa micin yang lumayan liat. Micin! Nyaris saja saya melompat sambil berteriak "Eureka!"
Micin datang sebagai solusi, jauh lebih konkret ketimbang Khilafah. Selama di kalimantan, kami memang jauh dari micin. Kerinduan kami pada rasa micin jarang terobati. Entah kenapa, barangkali karena standar kesehatan ala keluaraga kami yang terlalu menyiksa diri, maka kadar micin pada berbagai makanan amat dibatasi.
Benar, banyak swalayan juga menjual Indomie (maaf sebut merek). Namun Indomie yang dijual resmi untuk keluarga kami dikalimantan dihidangkan dengan micin seiprit, sehingga sensasi makan intel goreng jauh dari suasana hati saat nongkrong tengah malam di warung-warung.
Maka, Mie Jawa pun menjadi gerbang megah yang memulihkan stabilitas spiritual anak saya. Mulutnya mengecap-ngecap, sulur-sulur mie panjang itu dia sedot dengan nikmat, kuahnya berleleran di janggut bahkan di bajunya yang kena ciprat.
Ini surga.
Taro, chiki dan lain-lain memang kebetulan tempat eyangnnya jualan makanan dan jajanan anak-anak sejak itu menjadi menu jajan yang selalu ia tunggu-tunggu. Rasa segurih keping-keping keripik taro tidak pernah ia dapatkan diKalimantan. Puncaknya, Ufa sekarang sudah mau mengakui bahwa snack , dawet ayu khas banjar, salak pondoh banjar dan lain-lain di Jawa jauh lebih enak ketimbang jajanan Kalimantan! Ini tentu perkembangan kesadaran kebangsaan yang amat membanggakan.
"Jadi kamu sudah tahu to, kalau Jawa is much more beautiful than Kalimantan?" tanya saya, dengan ekspresi ala Najwa Shihab saat memojokkan narasumbernya.
"Noooooooo!" Ufa masing gengsi mengakuinya. Tapi saya tahu, emosi dan perasaan sentimentilnya sudah jauh berkurang, dan dia mulai stabil dan percaya diri untuk memulai proses kehidupan selanjutnya.
***
Apa pesan moral dari cerita ini? Tidak ada. Ini bukan perkara moral-moralan. Ini lebih kepada kisah tentang realitas hidup para orangtua yang gagap dan putus asa, yang kadangkala harus berkompromi dengan banyak hal, serta satu-dua kali terpaksa meninggalkan idealisme muluk-muluk dalam mendidik anak-anaknya.
Kesehatan badan itu penting. Tapi kesehatan batin pada saat-saat genting acapkali jauh lebih penting.
Lagi pula, hei, kata siapa micin berbahaya? Dr. John W. Olney dari Washington University memang menyebut efek-efek berbahaya dari MSG. Tapi riset dari The Federation of American Societies for Experimental Biology malah menemukan sebaliknya.
Entahlah, saya juga nggak tahu versi mana yang lebih mendekati kebenaran hakiki. Tapi dari situ akhirnya muncul satu pelajaran, yakni para orangtua mesti berani mengambil sikap dalam menghadapi informasi kesehatan yang sering berganti-ganti. Hari ini ada pakar bilang minum air putih banyak-banyak itu sehat, besoknya ada pakar lain lagi mengatakan air dari sayur mayur dan buah sudah cukup. Hari Senin ada ahli menulis bahwa wortel sangat bagus untuk kesehatan mata, tapi di hari Jumat ada profesor menyatakan kebanyakan wortel justru berbahaya.
Hoahm. Kita orang awam jadi terombang-ambing dalam iman yang rapuh. Maka dalam situasi banjir bandang informasi seperti ini, saya kira hanya ada satu rumus ilmiah yang paling layak dipegang teguh: "Makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan." Al-Quran Surah Al-A'raf ayat 31.
No comments:
Post a Comment