Tahun baru kemarin ditempat embahnya Ufa kulonprogo ga ada yang istimewa karena dirumah saja melihat kembang api hanya nun jauh disana itupun tidur sekitar jam 22 wib karena sekiatar desa dilarang merayakan tahun baru tapi Diisi dengan sifat ibadah. Januari 2017 kayaknya pas jika dikatakan Januari yang Biru; seperti judul lagu mendiang Andi Meriem Matalatta. Indah di awal tahun entah kapan hadir lagi. Patah hati dan kecewa tak bisa diungkapkan dengan kata, hanya tulisan yang jadi ungkapan kata hati.
Halah lebay banget prolognya ߘ¬ jadi begini. Usai merayakan tahun baru sebagian masyarakat terkejut dengan beberapa kenaikan harga beberapa item, hal ini menjadi pukulan bagi masyarakat berpenghasilan menengah, pas-pasan, dan tidak menentu. Jauh-jauh hari sebenarnya sudah ada “woro-woro” akan ada kenaikan harga, yang jadi masalah adalah kok ya beberapa item naik sekaligus. Jika satu saja yang naik, mungkin dampaknya tidak besar.
Apa saja kenaikan harga tersebut?
1. STNK dan BPKB
Berdasarkan PP no 60 tahun 2016, pengurusan STNK dan BPKB mengalami kenaikan 100% - 300% mulai 6 Januari 2017. Kenaikan ini membuat beberapa kantor Samsat diserbu masyarakat, berbondong-bondong mengurus surat agar tidak terkena kenaikan harga. Tapi hanya mereka yang jatuh tempo Januari - 6 Februari 2017 saja yang bisa mengurus surat-surat tersebut, karena Samsat hanya menerima pengurusan hingga jatuh tempo hingga 30 hari. STNK yang jatuh tempo bulan 7 Februari - Desember 2017 langsung menikmati tarif baru.
2. BBM Non Subsidi
Per tanggal 5 Januari 2017, harga Bahan Bakar Minyak non subsidi mengalami kenaikan sebagai imbas kenaikan harga minyak dunia. Rata-rata kenaikan adalah Rp. 300.
Perlu diketahui wilayah DIY, Jawa Tengah, dan Jawa Timur memiliki harga BBM yang sama.
3. Tarif Dasar Listrik
Secara bertahap Tarif Dasar Listrik (TDL) mengalami kenaikan (lebih halus dengan kata penyesuaian). Tahun ini yang mengalami kenaikan adalah pengguna R-1 900 VA, baik pra bayar maupun pasca bayar.
Daya beli turun
Akhir Desember 2016 saya ngobrol dengan teman yang mengeluhkan sepinya penjualan toko. Dia katakan, hal ini tidak hanya terjadi pada dirinya tapi juga koleganya. Demikian juga dengan penjualan barang elektronik, ketika saya datang ke salah satu pameran, terlihat pengunjung tidak seramai pameran sebelumnya. Tidak banyak pedagang yang ikut pameran, sekalipun ikut pameran hanya menghabiskan barang dengan keuntungan ala kadarnya.
Omset penjualan tetap tinggi untuk sektor kuliner, tapi keuntungan turun akibat naiknya beberapa bahan baku. Agar tetap bertahan dengan harga sama; potongan tempe dan tahu jadi kecil, daging rendang mengecil, telur dadar lebih banyak tepungnya daripada telur, dan masih beberapa cara lagi.
Solusi pribadi
Tidak akan ada demonstrasi kenaikan harga. Ganti kendaraan dengan tahun lama adalah penurunan daya tarik kecepatan, tidak mungkin saya lakukan. Turun daya listrik juga tidak mungkin karena daya paling bawah makanya sering mati karena dayanya sedikit penggunaan lebih he.......he..... Saya sebenarnya tertarik menggunakan photosel, tapi tidak kuat beli
Ketika pengeluaran bertambah sedangkan pemasukan tidak berubah, inilah hal yang saya lakukan.
1. Berdo’a
Berdo’a kepada Yang Maha Pemurah dan Penyayang agar diberi kemudahan menghadapi cobaan. Usaha tetap dilakukan, berdo’a jalan terus. Meskipun mencari nafkah sampai sakit seluruh tubuh, sia-sia belaka jika tidak mendapat ridho-Nya.
2. Hemat energi, hemat biaya
Hanya nyalakan peralatan elektronik rumah jika diperlukan. Matikan lampu ketika bangun tidur pagi, nyalakan ketika sudah Maghrib. Ngisi baterai smartphone numpang ke kantor, kampus, atau lounge.
3. Hijrah ke Premium
Sebagai langkah penghematan, terpaksa mengisi BBM Premium lagi. Andaikan bahan bakarnya bisa diisi air, akan saya isi air.
Solusi di terakhir hanyalah solusi jangka pendek, semoga tarif konten ikutan naik sehingga neraca keuangan stabil kembali. Amin
No comments:
Post a Comment