Sejak media sosial menguasai segenap sendi kehidupan kita, rasanya kita jarang tenang dalam menjalani hidup sebagai warga masyarakat dan warga negara. Ini jauh berbeda dengan, katakanlah, 10 tahun silam. Masihkah untuk soal ini diperlukan penjelasan?
Dulu, bahkan sampai ketika bangsa manusia sudah menemukan makhluk bernama Friendster, tak semua mulut bisa terdengar suaranya, dan tak semua jempol bisa menggoyang dunia. Oke lah, sudah ada blog. Namun kesaktiannya masih saja jauh di bawah media sosial di masa sekarang.
Maka saya membayangkan, betapa pusingnya pemegang kuasa menghadapi gempuran nyaris setiap saat di waktu ini. Ada langkah sedikit, isu ini-itu bertebaran. Muncul di lapangan peristiwa seiprit, tudingan sana-sini muncul berentetan. Jadilah bukan cuma orang-orang di atas saja yang tak pernah nyenyak tidurnya. Kaum jelata pun tak beda.
Namun, tak mengapa. Biarlah itu jadi takdir karakter wajah bumi di Zaman Kalabendu ini. Kita sebagai masyarakat awam yang berjuang agar tetap waras, mestinya cuma bisa berusaha agar "ngeli ning ora keli", kalau orang Jawa mengibaratkan. Ikut arus, tapi tidak terhanyut. Karena itulah dalam segenap keterbatasan, yang bisa kita lakukan cuma berhati-hati dan tekun menyimak hingga tuntas setiap perkembangan. Sebab dari situlah kita bisa menemukan banyak kesempatan untuk belajar.
Anda semua tentu tahu, bahwa ada puluhan kericuhan, dalam obrolan sehari-hari kita. Ada yang berujung happy ending, namun banyak juga yang tak berujung apa-apa selain kerumitan, kebingungan, dan publik awam yang semakin tak paham.
Lalu dalam situasi ruwet tak berujung begitu, siapa yang pantas digugat? Izinkan saya menuding muka Anda, Anda, dan Anda: para orang pintar, para elite pengetahuan yang aktif beraktualisasi di media sosial, namun lebih asyik berbincang riuh-rendah dengan kalangan kalian sendiri.
Adegan seperti yang biasa terjadi. Mereka riuh berbincang dengan kalangan mereka sendiri, sesama intelektual hebat yang kenyang dengan buku-buku berat, sambil abai bahwa orang-orang yang telah mereka bubuhi label itu sesungguhnya membutuhkan penjelasan yang jauh lebih sederhana, dengan bahasa manusia biasa, tentang di mana salahnya mengandalkan jargon legalitas.
Saya sering menjumpai jenis-jenis orang pintar semacam itu. Kalangan tersebut sangat terampil mengucap, "Nggak usah dilayani debat sama orang seperti dia. Cuma bikin kita down grade saja."; "Tulisan yang itu ramai dikutip orang, padahal dari kacamata ilmu, itu semua tak ada isinya."; dan sebagainya. Atau yang paling sering bikin tertangkap mata ya ucapan legendaris ini: "Sudah Bung, sana baca buku duluuu!"
Haha. Mereka lupa, bahwa kesempatan mengakses pengetahuan pun tak dimiliki setiap orang. Para kelas menengah yang mereka tuding-tuding itu pun belum tentu mereka pahami "situasi struktural"-nya. Boleh jadi kelas menengah itu adalah kelompok demografis pekerja kantoran yang pergi subuh dan pulang menjelang tengah malam, yang sering terpaksa lembur karena teror bos mereka, yang hanya memiliki kehidupan riil di akhir pekan dan itu pun habis untuk keluarga. Kapan mereka punya kesempatan membaca kitab yang berat-berat, apalagi pekerjaan mereka pun tak terkait dengan itu semua?
Barangkali memang benar, para kelas menengah yang dicap sebagai pengejar kenyamanan itu memiliki bawah sadar neolib. Mereka menganggap bahwa kaum miskin tergusur di mana-mana semata karena kalah berkompetisi dalam realitas dunia yang semakin ketat, padahal kenyataannya kompetisi tidak dimulai dari garis start yang sama. Oke, di titik itu saya sepakat.
Namun para intelektual publik itu pun lupa, bahwa mereka tak kalah neolibnya. Apa dikiranya keberuntungan berupa kesempatan mengakses pengetahuan, takdir yang mempertemukan mereka dengan buku-buku hebat, itu 100% murni karena kerja keras mereka sendiri? Hahaha. Sombong sekali. Sombong sekali.
Saya kira, sudah saatnya kelas intelektual mulai bertobat, berendah hati, untuk memberikan pengajaran publik tentang setiap hal yang terjadi di tengah segala keributan ini. Dengan cara sederhana, dengan bahasa-bahasa orang awam, dengan melupakan keagungan posisi sebagai elite pengetahuan.
Percayalah, itu akan jauh lebih berguna dalam ikhtiar membentuk masyarakat yang rasional, dan jauh lebih mulia ketimbang sekadar "mengehek-ngehekkan". Kami orang-orang bodoh ini butuh dicerahkan, Tuan. Bukan ditertawakan.
No comments:
Post a Comment