PUNCAK prosesi demokrasi pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak tahap II, termasuk kabupaten di daerah kita, Banjarnegara akan berlangsung pada 15 Februari 2017 mendatang. Ini tentunya merupakan kesempatan bagi rakyat di daerah itu untuk mengubah nasib. Ini kesempatan rakyat di Banjarnegara untuk memilih pemimpin yang benar-benar baik dan membawa kesejahteraan.
Memang, tidak semarak ataupun seriuh DKI Jakarta yang mempersiapkan perhelatan pemilihan gubernur. Memang, kalau kita membandingkan, memang tidak ada apa-apanya pilkada di dua daerah kita dengan di ibu kota pemerintahan RI itu. Namun, yang pasti, prosesnya tetap sama yakni melalui mekanisme demokrasi. Di mana rakyat lah yang memiliki mandat dan memercayakan pilihan politiknya kepada calon pemimpin mereka.
Kita tentu tidak ingin seperti Amerika Serikat (AS) yang selama ini mengklaim ‘moyangnya’ demokrasi, tapi faktanya demokrasi tidak berjalan sebagaimana mestinya. Contoh paling gress, Donald Trump yang terpilih secara demokratis, tapi tak diakui oleh sebagian rakyat AS.
Berbagai aksi sebagai bentuk penolakan dan penentangan terhadap Trump dilakukan oleh rakyat di sana. Tidak hanya komunitas politik, para selebritis Hollywood menyuarakan penentangan mereka terhadap presiden terpilih AS itu, yang memang bukan berlatar belakang politik itu. Dalam sejarah politik AS, bisa jadi ini mungkin yang pertama terjadi di negeri Uncle Sam itu.
Kita tentu bertanya, ada apa sebenarnya dengan demokrasi di Amerika Serikat? Begitu absurd-kah demokrasi di mata rakyat Amerika? Terlepas kontroversi seorang Donald Trump, harus diakui demokrasi memang tidak pernah sempurna melahirkan pemimpin, walau saat ini masih diyakini sebagai cara terbaik mengatur kekuasaan.
Kita di sini tidak harus mengerti pilihan rakyat AS, karena toh mereka telah memilih sesuai kebutuhan masing masing. Apa yang menjadi pilihan rakyat, memang itulah faktanya yang tak bisa dipungkiri. Namun, hidup adalah perjudian, itu yang dipegang oleh rakyat AS sekarang ini. Tidak ada pilihan lain, memilih Donald Trump sebagai pemimpin yang bisa jadi sebenarnya AS hari ini hanyalah kumpulan orang-orang yang frustasi.
Belajar dari kasus AS bahwa sejatinya demokrasi tidak selalu berujung manis. Adakalanya demokrasi membuat kita tersenyum, adakalanya pula membuat kita geram.
Nah, bagaimana dengan pilkada serentak Februari mendatang di negeri ini? Kita tentu berharap proses demokrasi benar-benar berjalan sebagaimana mestinya. Kita sangat tidak mengharapkan dari proses demokrasi melahirkan keriuhan yang justru bertentangan dengan prinsip-prinsip demokrasi itu sendiri.
Kita semua inginkan adalah demokrasi yang melahirkan pemimpin sesuai kehendak rakyat (mayoritas) tanpa dapat ditolak oleh yang minoritas. Kita tidak ingin ada demokrasi main-main, dimana nantinya akan melahirkan pemimpin tiran dan tidak dipercaya oleh rakyat –yang berujung seperti di Amerika Serikat.
Kita tak perlu lagi terjebak dengan pilihan karena tampilan sosok si Fulan yang terzalimi, atau si Badu yang ganteng, atau si Budi wong cilik. Tapi memilihlah dengan cerdas, karena demokrasi politik adalah proses jual beli yang menuntut kita cerdas dalam memutuskan dan memilih pemimpin agar kita tetap bisa sejahtera
No comments:
Post a Comment