Thursday, 19 July 2018

ORA NGGOPLE


Alumni SDN sekolah yang biasa-biasa saja, dengan mayoritas murid dari kalangan bawah, tentu sangat sering menghadapi anak-anak bermasalah. Mulai anak yang penuh problem dengan pelajarannya, anak yang berkelahi dengan temannya, hingga anak yang nakalnya Minta ampun.
Khazanah pengalaman dalam mengelola problem kehidupan khas anak-anak begitu semakin membuat kaya referensi persoalan.
Dari pengalaman selalu menjadikan meja makan di rumah kami sebagai semacam ruang rapat. Kerapkali sidang keluarga digelar, dan kami semua dipertemukan. Entah saat ada konflik antara anak dan orang tua. Semua "stakeholder masalah" diminta menyampaikan versi masing-masing. Segenap sudut pandang dicari titik temunya, untuk kemudian dicari solusi bersama.
Indah sekali, bukan? Ya, sekilas tampaknya sempurna. Namun segala yang indah-indah itu ternyata membawa pula sejenis efek sampingnya. Entah bagaimana dengan anak dan orang tua, namun saya pribadi merasa tumbuh dengan karakter khas: terlalu detail dalam melihat masalah, tidak gampang melupakan konflik, dan suka berdebat.
Bapak mertua saya seorang guru dan guru ngaji . Barang tentu, kurang kerjaan juga bila lantas Anda mengira ada adegan mertua dan menantu yang tiap sore ngobrol pertanian oplosan agama. Namun saya membayangkan, dengan latar demikian, mestinya Pak Mertua juga sedetail saya. Lha agama tuh tugasnya membongkar segala hal-ikhwal sampai ke level lower ground, je. Wajarnya kan tiap kali ketemu konflik, Pak Mertua akan menjelaskan hakikat persoalan yang kami temui, mulai dari koma sampai titik, lantas masalah dianggap selesai hanya setelah setiap anggota keluarga berteriak "selesai !"
Nyatanya, bukan itu yang tampak di mata saya. Saya memang orang luar di keluarga itu, tidak pernah tinggal bersama mertua, sehingga pasti ada banyak sisi dan cerita yang belum sepenuhnya saya kenali hingga hari ini. Namun setidaknya bisa saya lihat, keluarga mertua saya sungguh berbeda dengan keluarga saya sendiri.
Pak Mertua punya cara unik dalam mengelola konflik di dalam keluarganya. Tiap kali muncul letupan di antara anak-anaknya, misalnya, ini yang ia lakukan: mengajak seluruh anggota keluarga kumpul .
Apakah di tempat kumpul lantas digelar pembahasan menyeluruh sebagaimana yang dilakukan saya? O, tidak. Di situ mereka ngobrol hal-hal lain, membincangkan topik-topik dengan dalil-dalil , yang berhubungannya dengan konflik sebelumnya.
Hasil dari kebiasaan itu ternyata ajaib, terutama di mata saya yang dibesarkan dalam varian peradaban lain. Konflik di rumah mertua cenderung cepat berlalu. Memang tidak tuntas dikupas, namun juga tidak lama membekas. Itu berbeda dengan di saya, yang meski pembahasannya selesai, memarnya sering bertahan lebih panjang.
Maaf, saya membicarakan keluarga saya sendiri. Saya tahu, keluarga saya nggak ada penting-pentingnya buat Anda semua. Namun pola seperti ini saya yakin ada di mana-mana. Konflik juga ada di mana-mana. Apalagi sejak internet dan medsos menjajah alam kesadaran kita, kita jadi sangat suka berdebat, sangat suka membahas banyak hal sampai terperinci setengah mati, dan selalu merasa pembahasan kita sangat berguna dan begitu menentukan masa depan dunia.
Dari situ tak jarang yang terjadi justru konflik-konflik turunan antarteman, antartetangga, bahkan antarsaudara. Sebab kebiasaan membahas persoalan-persoalan besar akhirnya terbawa saat kita menghadapi dinamika sehari-hari. Sendi-sendi yang lebih riil pun jadi rapuh, padahal semua itu lebih nyata daripada isu-isu besar (atau isu yang dibesar-besarkan) yang tak henti menjejali mata dan telinga kita.
Dalam masyarakat tradisional, yang dikejar bukanlah pemenuhan rasa keadilan, melainkan rekonsiliasi. Kadang hasil keputusan dari dialog yang digelar tidak cukup fair bagi korban. Namun ada satu tujuan lebih mendasar, yakni pulihnya harmoni antaranggota kelompok.
Harmoni memang merupakan hal vital dalam masyarakat tradisional. Anggota masyarakatnya relatif sedikit, satu sama lain saling mengenal, saling bersinggungan hingga seterusnya. Jika harmoni gagal dibangun kembali, potensi konflik akan terus tertinggal, menetap, dan sewaktu-waktu bisa meledak. Nah, konsep peradilan dalam masyarakat modern tidak cukup peduli itu, sebab cakupan populasinya jauh lebih luas. Antara pelaku konflik bisa tidak saling kenal, dan sangat mungkin tidak akan perlu saling berinteraksi hingga seterusnya.
Saya menduga, boleh jadi selama ini kita terlalu menempatkan diri sebagai sepenuhnya makhluk modern. Kita merasa sebagai anggota masyarakat yang sangat luas, yang menyediakan solusi-solusi rasional untuk menyelesaikan segenap persoalan. Sementara itu, kita lupa bahwa kita punya keluarga, saudara, tetangga, teman-teman baik, yang setiap saat ada di dekat kita, dan tidak bisa selalu kita sikapi sebagai bidak-bidak mati bagian dari sebuah konfigurasi besar bernama negara.
Memang, dalam konteks kehidupan bernegara, atau di bangku-bangku akademis, segenap hal ikhwal harus dikuliti dan dibongkar. Namun dalam lingkup-lingkup kecil yang dekat dan lekat dengan realitas kehidupan keseharian kita, apa iya sih kita mesti setiap saat menjadi semacam peneliti sosial, atau filsuf pemburu kebenaran, yang tak lelah-lelahnya menggali setiap jengkal persoalan?
"Kamu harus belajar 'the art of ora mbahas'. Seni untuk diam, menahan diri untuk tidak membahas masalah. Sebab tidak semua hal harus dibahas dan didiskusikan. Kadang lebih enak kalau diabaikan, dilupakan. Cobalah.
Saya manggut-manggut mendengarnya, bersepakat ,dan langsung teringat wajah cantik temen saya.

No comments:

Post a Comment